SELEBRITI

Kisah Inspiratif Zaskia Gotik, dari Jualan Cermai Hingga Jadi Penyanyi Dangdut Ngetop

Selasa, 29 Januari 2019 09:01 Penulis: Sanjaya Ferryanto

Zaskia Gotik © Kapanlagi/Muhammad Akrom Sukarya

Kapanlagi.com - Siapa yang tak kenal dengan sosok Zaskia Gotik? Dirinya pertama dikenal karena ciri khasnya, yaitu Goyang Itik. Namun meskipun bisa meraih kesuksesan seperti yang didambakan oleh banyak orang, perjuangan Zaskia Gotik tidaklah semudah membalik telapak tangan.

Berangkat dari keluarga dengan ekonomi sederhana, Zaskia membuktikan jika kerja keras bisa menjadi jalan utama menuju kesuksesan. Walaupun kala itu dirinya hanya tamatan SD, namun Zaskia benar-benar gigih membangun mimpinya sebagai penyanyi dangdut.

Segala asam garam di dunia dangdut pun pernah dialaminya. Kisahnya bisa kamu renungkan untuk menjadi penyemangat, agar kita tak seharusnya menyerah dengan hidup, dan harus terus maju.

1. Jualan Manisan Cermai Saat Kecil

Sejak kecil Zaskia yang akrab disapa Eneng ini telah membantu keluarga untuk mencari uang. Bahkan dirinya juga tak segan-segan berjualan apapun, termasuk berjualan manisan Cermai.

Manisan ini memang hasil olahan dari sang ibu. Usai dipetik, buah-buah itu dibuat manisan oleh sang ibu. Kemudian barulah manisan tersebut ia jual sambil berkeliling kampung.

"Pernah jualan (buah) Cermai yang diolah menjadi manisan. Jadi, di rumah ada pohon Cermai dan dibuat jadi manisan sama Emak, lalu dijual sama Eneng keliling kampung," tuturnya saat dijumpai di sela acara LIDA di studio 5 Indosiar, Jumat malam, 25 Januari 2019.

Pendapatan dari berjualan manisan cermai tersebut lumayan menambah pundi-pundi Eneng walaupun tak seberapa.

2. Menyanyi Dengan Bayaran Tak Seberapa

Tak hanya berjualan manisan cermai, Eneng kecil rupanya juga hobi menyanyi. Dirinya pernah menyanyi dari kampung ke kampung selama seharian penuh, dan dibayar dengan tak seharusnya.

Dari hasil menyanyi dari kampung ke kampung tersebut, dirinya hanya dibayar sebanyak 60 ribu Rupiah. Selain itu, beberapa pekerjaan lain sempat dilakukannya seperti menjadi kuli atau buruh cuci.

"Eneng juga pernah nyanyi dari kampung ke kampung dari honor cuma 60 ribu (Rupiah) sehari semalam. Jadi, itu sudah pernah Eneng alami. Kuli, nyuci juga sama orang pernah Eneng lakukan. Itu sejak SD kelas empat," sambungnya.

3. Dangdut Adalah Hidupnya

Eneng sendiri mengakui jika musik dangdut telah mendarah daging dalam hidupnya. Dirinya mengatakan jika musik dangdut mampu membuatnya berjoget ria.

"Oh, suka sekali! Dari kecil hobi sekali dengan musik dangdut. Kalau ada musik dangdut saya pasti joget. Saya suka sekali dengan musik dangdut dari usia lima tahun. Jadi, kalau dengar musik dangdut sudah joget-joget sendiri," ujarnya.

Bahkan karena hobinya dengan musik dangdut tersebut, manisan cermai yang dijual Eneng laris manis. Syaratnya, pembeli ingin melihat Eneng berjoget dulu mengikuti irama dangdut.

"Terus kan saya dari SD sudah bantu Emak jualan Cermai. Itu yang ingin beli menyuruh aku goyang dahulu. Kalau Neng sudah goyang, baru mereka beli. Jadi, memang di kampung Eneng itu sudah pada tahu kalau Eneng hobi banget sama dangdut!" ucapnya.

4. Belajar Secara Otodidak

Tak ada yang mengajari Eneng tentang goyang dangdut, walaupun dirinya memang hobi banget mendengarkan musik dangdut. Selama ini, dirinya hanya belajar secara otodidak dengan menonton TV.

"Neng tidak berlatih dengan siapa-siapa. Neng hanya menonton TV," tutupnya.

5. Abahnya Adalah Kuli Bangunan

Tak berbeda dengan masa kecil Eneng, kondisi keluarga Eneng saat kecil juga diliputi keprihatinan. Sang Abah adalah seorang kuli bangunan dengan pendapatan yang tidak menentu.

Jika sang abah mendapatkan pekerjaan, maka Eneng sekeluarga bisa mendapatkan uang untuk makan. Namun kalau sang abah tidak mendapatkan pekerjaan, maka Eneng hanya bisa makan nasi dengan garam saja.

“Abah saya dulu tukang bangunan yang bikin rumah. Kalau pas ada kerjaan ya kami bisa makan, kalau abah sedang engga ada kerjaan makannya cuma nasi dengan garam saja,” katanya.

Masa-masa berat ini justru membuatnya terpacu untuk membantu ekonomi keluarganya. Dengan kondisi perekonomian keluarga seperti ini, malah menjadi bahan bakar bagi Eneng untuk bisa berprestasi di bidang dangdut.

6. Rumah Paling Jelek Sekampung

Eneng juga mengatakan jika dirinya dan keluarganya sering dihina kala itu. Ketika roda nasib berputar, justru kini dirinya yang membantu orang yang menghina keluarganya dulu.

“Saya dan keluarga kami sering banget dihina. Namun kita engga harus diam. Saya masih ingat dengan orang yang sering menghina keluarga kami dahulu. Sekarang nasib sudah berubah malah orang yang menghina kami sekarang kami bantu,” katanya.

Dirinya menambahkan jika rumahnya adalah yang paling jelek di kampung. Bahkan jika hujan terlampau lebat, rumah Eneng sudah langganan terkena banjir.

“Saat banjir kami semua ngumpul di atas bale-bale untuk berlindung dari banjir. Tahu kan bale-bale? Itu tempat tidur tanpa kasur yang terbuat dari bambu yang susun menyerupai meja berukuran besar,” katanya lagi.

7. Sudah Sukses Namun Masih Kangen Manggung di Kampung

Walaupun semuanya tersebut sudah dilalui, dan Eneng sekarang menjadi sosok yang tak kekurangan dari sisi materi, nyatanya dirinya masih kangen dengan saat awal dirinya merintis menjadi penyanyi dangdut. Ya, Eneng kangen dengan manggung di kampung.

"Iya sempet kangen sih, sama temen, sama suasana, walaupun bayaran nggak seberapa tapi keseruan, happy gitu pokoknya seneng banget. Apalagi sama teman-teman kalau ada acara nikahan, ada kang bakso, kang mi ayam, kalo kita lagi gantian nyanyi kadang suka mesen bakso, kayaknya nikmat banget, kangen dengan hal-hal itu," ucapnya.

Dirinya juga kangen dengan saweran uang yang biasa diberikan oleh para penonton. Walau begitu, Eneng tak ingin mendapatkan saweran seribu rupiah.

"Kangen juga sih yang nyawer, tapi kalo nyawernya serebuan nggak kangen hehehe. Kan serebuan nyawernya sampe ke mane-mane tuh kan, kalo sekarang bukan rebuan lagi," sambungnya.

"Ya nggak bukan begitu (nggak mau disawer seribu), bukan nggak ada artinya. Ya masa sih zaman sekarang serebu dapet apa? Paling permen kojek udah paling sebiji," tutupnya.

(kpl/dan/frs)

Reporter: Dadan Deva


REKOMENDASI
TRENDING