Royal Wedding: Pernikahan Megah Keluarga Kerajaan yang Penuh Makna

Jum'at, 01 Juni 2018 16:46 Penulis: Mahardi Eka
Royal Wedding: Pernikahan Megah Keluarga Kerajaan yang Penuh Makna GKR Hayu dan KPH Notonegoro. Kratonwedding.com

Kapanlagi.com - Perhatian publik tersedot pada royal wedding Pangeran Harry dan Meghan Markle beberapa pekan kemarin. Pernikahan mereka dipandang istimewa karena yang menikah adalah anggota keluarga kerajaan. Setiap detail persiapan dan pernikahan mereka punya daya pikat. Royal wedding sejatinya memang harus memikat, agung, dan megah.

Tidak hanya di Inggris yang kerap disorot media internasional, ada banyak kerajaan lain yang masih melangsungkan royal wedding di era modern ini. Salah satunya adalah Keraton Yogyakarta di Indonesia. Di lingkungan keraton, royal wedding perlu dilaksanakan dalam skala yang tidak kecil. Dosen Sastra Jawa Universitas Indonesia, Prapto Yuwono, S.S. M.Hum memaparkan kepada KapanLagi.com seperti apa sejatinya sebuah royal wedding harus terlaksana.

Dijelaskan oleh Prapto, royal wedding keraton Jawa pertamanya perlu menonjolkan sisi visual yang agung dan megah. “Pernikahan konteksnya mengantarkan dua orang yang hidup baru, maka ini juga merupakan prosesi ritual juga. Konteks megah, substansinya ritual sebenarnya. Untuk orang luar, ini terkesan rumit. Intinya ada 3 hal yang harus kita lihat, keraton selalu mengutamakan 3 aspek dalam seni maupun tradisi mereka. Satu, harus estetik, visual estetik harus muncul. Kedua, etik, dengan norma-norma atau aturan baku, artinya ada tanggung jawab moral di situ. Ketiga, religius,” ungkap Prapto ketika ditemui di FIB UI beberapa waktu lalu. Ketiga aspek di atas harus terkandung dalam substansi dan juga visualnya.

Dokumentasi royal wedding GKR Hayu dan KPH Notonegoro. (Foto:Kratonwedding.com)Dokumentasi royal wedding GKR Hayu dan KPH Notonegoro. (Foto:Kratonwedding.com)



Putri Sultan Hamengku Buwono X yang ke-4, Gusti Kanjeng Ratu Hayu (GKR Hayu) mengungkapkan hal senada. Dalam pandangannya, pernikahan di keraton harus dilaksanakan dengan megah dan berskala besar. "Enggak ada cerita pesta kecil-kecilan cuma keluarga terdekat aja, karena bapak saya adalah seorang raja, dan tidak mungkin seorang raja menikahkan anaknya kecil-kecilan. Dari pertama kami ingin acaranya menjadi event untuk turis juga, menunjukkan bahwa adat istiadat dan tradisi Jawa adalah sangat kaya dan sangat indah," ungkap GKR Hayu yang dihubungi via email.

Jika pernikahan rakyat biasa (di Jawa) bisa diubah sesuai kemampuan, tidak begitu halnya dengan pernikahan di keraton. “Keraton apalagi anak raja harus betul-betul digebyahkan sesuai dengan konteks keraton. Persiapannya pun lama, berapa tahun sebelumnya. Sehingga agar keliatan megah dan agung itu keharusan, tidak boleh tidak. Kalo rakyat beda kan, apa adanya karena keterbatasan, dan ini yang membedakan,” tutur Prapto Yuwono lagi.

Pernikahan yang agung dan megah, termasuk dari pilihan tamunya juga menyiratkan harapan bahwa di masa mendatang sang mempelai bakal menjadi raja yang mahsyur dan masyarakat akan bangga melihat itu. Bahwa kerajaan mampu menyelenggarakan sesuatu yang luar biasa seperti ini. Apa yang nampak dalam royal wedding, baik itu ritualnya, busananya, riasannya, makanannya, atau dekorasinya adalah simbol penuh mana yang mengandung doa dan harap. “Pada akhirnya mengantarkan kesejahteraan dan keselamatan pada dua orang ini. Dan harapan itu bukan sekedar hanya untuk bahagia di dunia, melainkan dunia akhirat juga,” tegasnya.

Dalam adat Jawa, pernikahan dengan penuh simbol serta pemaknaan ini tidak hanya dalam royal wedding saja. Pernikahan rakyat biasa pun juga demikian. Hanya saja, keraton punya pakem tersendiri yang membuat sebuah pernikahan terselenggara lebih agung, megah, dan tidak bisa disamai. Salah satu pakem yang hanya ada dalam royal wedding keraton yogyakarta adalah prosesi "pondhongan". "Seperti proses pondhongan itu bermakna bahwa mempelai laki-laki akan selalu menjunjung mempelai wanita sebagai putri Sultan yang kedudukannya lebih tinggi dari mempelai laki-laki," GKR Hayu

Prosesi Pondhongan dalam Royal Wedding Keraton Yogyakarta. Foto: Merdeka.comProsesi Pondhongan dalam Royal Wedding Keraton Yogyakarta. Foto: Merdeka.com



Pakem Pernikahan dalam Budaya Jawa

Pernikahan dalam budaya Jawa perlu dipahami harus menyertakan inti pernikahan yang jelas, yakni temu keluarga besar. Dalam acara yang disebut “temon” ini, kedua keluarga besar akan mengukur dan menghitung segala yang berhubungan dengan pernikahan ini. “Merencanakan bagaimana prosesi pernikahan, juga masalah pembiayaan. Itu nomor satu. Sangat penting,” ujar Prapto. Proses temu ini biasanya dilakukan sepekan sebelum pernikahan. Bagi penganten putri biasanya disarankan berpuasa selama satu minggu, begitu juga laki-laki sampai hari H.

Lalu setelah “temon” adalah “midodareni”. Acara yang satu ini digolongkan sebagai acara pokok dalam pernikahan karena di dalamnya ada pertemuan antara kedua mempelai. “Midodareni itu semalam sebelum pernikahan mereka, yang di situ lah penganten perempuan dipersiapkan secara mental, spiritual agar dia besoknya menjadi seorang bidadari,” tutur Prapto.

Sebelum menjalani midodareni, calon penganti perempuan akan dirawat melakukan perawatan dilulur dan mandi dengan air dari 7 sumber mata air. Bagi orang Jawa, melepas anak perempuan adalah hal yang paling berat. “Inilah yang disebut yang punya gawe adalah mantu. Mantu itu istilahnya  "sing dieman-eman metu" (yang disayang harus dilepas) kata orang Jawa,” lanjutnya. Dalam acara Midodareni, mempelai perempuan benar-benar mempersiapkan diri untuk akad atau pernikahan esok harinya..

Dalam malam Midodareni, pengantin perempuan akan dipersiapkan untuk menyambut pihak keluarga mempelai pria dan tamu. Setiap yang hadir di dalamnya akan mendoakan serta menimbang apakah mempelai wanita sudah siap secara mental dan spiritual. Tak jarang salah satu indikator yang dilihat adalah kecantikan mempelainya. Bahkan dalam beberapa pernikahan, ada seseorang yang ditunjuk untuk membukakan aura pengantin perempuan.

Sementara pengantin laki-laki dan keluarga akan dipersilakan duduk di ruangan berbeda dari mempelai wanita. Pengantian pria tidak boleh melihat langsung pada pengantin wanita. Keduanya tidak boleh bertemu selama sepekan penuh sebelum hari H pernikahan. Tujuan kedatangan keluarga pengantin pria adalah untuk menyaksikan jalannya acara saja.

Acara Midodareni di keraton lebih panjang lagi. Kedua mempelai akan dipertemukan di bangsal sehari setelah Midodareni. Kedua mempelai akan didaupkan di depan penghulu dan melakukan upacara adat lagi. Setelah itu baru mempelai wanita dan pria akan dirias bersama untuk pesta besar.

GKR Hayu dalam acara Midodareni. (Foto: Kratonwedding.com)GKR Hayu dalam acara Midodareni. (Foto: Kratonwedding.com)


Prapto menekankan bahwa acara Midodareni wajib dilakukan mengingat subtansi acaranya yang penting bagi calon pengantin. “Yang tidak boleh dilewatkan itu midodareni, karena penganten didoakan dan dipersiapkan agar besoknya cantik, mengagumkan, dan memberikan kebanggaan. Begitu juga ada doa dari sesepuh juga tetangga untuk menyaksikan bahwa dia siap secara mental, penganten laki-laki juga diundang. Yang kedua, temu penganten, yaitu simbolisasi bagaimana dia diarak, masing-masing diantarkan keluarga besarnya. Upacara balangan itu penting juga, jadi gantal/daun sirih diiket supaya dilemparkan masing-masing. Itu penting karena sebagai suatu pernyataan saling mengikat diri. Mulailah jalan berdua ke penghulu. Dilanjutkan seharusnya kepada sungkeman kepada orang tua atau leluhur,” tegasnya.

Selain dua acara di atas, kehadiran penghulu serta sungkem kepada orang tua juga tidak boleh dilewatkan. “Sungkem kepada orang tua untuk mohon izin. Kalo dia melangkahi, dia harus sungkem juga ke kakaknya. Kalau itu sudah. Selesai,” tuturnya lagi.

Sementara dalam royal wedding di Inggris, inti pernikahannya ada pada pemberkatan pernikahan di kapel atau gereja di mana kedua mempelai akan mengucap "I do" di hadapan tamu dan undangan. Perlu dipahami bahwa kerajaan di Inggris dan di Keraton YOgyakarta menganut agama masing-masing yang nantinya berpengaruh pada prosesi pernikahan yang dilangsungkan.

Royal Wedding Jawa dan Inggris. Apa saja Perbedaannya?Royal Wedding Jawa dan Inggris. Apa saja Perbedaannya?



Detail Royal Wedding: Dari Busana sampai Makanan

Pernikahan di keraton penuh dengan simbol-simbol. Ada aturan ketat untuk setiap anggota keluarga keraton atau para abdi dalemnya. Bahkan ketika berkaitan dengan busana pun, keraton punya aturan tersendiri. “Di keraton level segini ngga boleh pake kain yang ini. Dan itu strict banget. Kalo ada yang berani menyalahi dia akan kena sanksi spiritual. Motif-motif itu simbol dari spiritual sebenernya. Oleh karena itu, yang terjadi di masyarakat sekarang sudah kacau balau maknanya. Banyak motif raja (motif parang) sudah dipakai banyak orang karena batik sudah menjadi pakaian nasional, seharusnya tidak boleh,” jelas Prapto.

Begitu pula dengan busana pernikahan. Setiap keraton punya pakem tersendiri dan bisa berbeda antara keraton yang satu dengan yang lain. “Ada motif yang sudah disakralkan dan penuh harapan dari setiap baju yang dipilih. Iti diserahkan pada yang ngurusin busana itu tadi, yaitu abdi dalem yang ahli busana,” ungkapnya.

Dalam royal wedding Keraton, mempelai wanita mengenakan beberapa busana untuk setiap acaranya. Masing-masing pun dipilih sesuai pakem dan kebutuhan. Dalam pernkahan GKR Bendara di 2011 misalnya, ia mengenakan kebaya tangkeban yang panjangnya sampai menutup pinggul dalam prosesi nyantri. GKR Bendara memesan tiga kebaya tangkeban yang akan dipakai di tiga prosesi utama yaitu sebelum siraman, setelah siraman dan saat upacara tantingan. Tiga kebaya tangkeban itu dibuat dengan warna berbeda-beda.

Ketika dalam adat panggih, kedua mempelai akan mengenakan busana dodotan. Baru ketika resepsi, keduanya akan mengenakan kebaya dan dirias Paes Ageng Jangan Menir. Dalam resepsi, kedua mempelai akan mengenakan jarik (kain batik) khusus. Tak jarang pembuatan kain jarik motif khusus tersebut memerlukan waktu sembilan bulan. Sedangkan untuk perhiasannya, pengantin putri akan mengenakan perhiasan keramat keraton dalam upacara adat panggih, kirab dan resepsi. Perhiasan tersebut di antaranya cundhuk menthul, pethat gunungan, penthung, subang royok, sangsangan sungsum, gelang kono, dan slepe. Sementara pengantin putra akan menggunakan sumping ron mangkoro, pethat menthul satu, dan karset.

Pemilihan busana dalam royal wedding keraton jawa jika diperhatikan memang lebih mendetail daripada pemilihan busana dalam royal wedding di Inggris. Dalam pernikahan pangeran Harry kemarin misalnya, mempelai prianya mengenakan seragam militer sementara mempelai wanita mengenakan gaun putih. Tidak ada aturan khusus mengenai desain gaunnya. Bahkan sejatinya untuk warna gaun pun tidak ada aturan pasti, hanya saja sesuai tradisi keluarga kerajaan Inggris, warna putih menjadi pilihan.

Pangeran Harry dan Meghan MarklePangeran Harry dan Meghan Markle



Ketika menikah, Pangeran Harry mengenakan seragam the Blues and Royals military atau angkatan bersenjata Inggris. Sedangkan Meghan mengenakan dress rancangan Givenchy dengan penutup kepala sutra sepanjang 30 meter. Desain gaunnya dipilih sendiri oleh pengantin wanita dengan menonjolkan siluet dan kesan modern serta segar. Untuk perhiasan, Meghan dipinjami tiara oleh Ratu Elizabeth II.

Kembali ke royal wedding keraton, menu makanan yang disajikan saat royal wedding juga harus seturut adat keraton. Setiap keraton punya makanan yang dibanggakan dan tidak semua orang bisa merasakan. “Saya pernah coba misal semar mendem, itu rasanya beda. Rasanya pasti berbeda dengan yang ada di masyarakat pada umumnya. Kesenangan raja-raja itu berbeda dan itu yang membuat kebanggaan dan orisinil dari setiap keraton,” kata Prapto.

Ditambahkan Prapto, dalam royal wedding bahkan ada makanan khusus yang diberikan untuk sesaji kepada para leluhur. Para paranormal keraton yang akan memperhitungkannya. Untuk tamu VIP akan disajikan menu khas yang menjadi kebanggaan keraton. Sementara untuk tamu biasa akan disajikan menu yang biasa saja. “Semua itu berasal dari naskah dan naskah itu biasanya dirahasiakan dan sangat dijaga,” ungkap Prapto.  

Berbeda dengan menu makanan Keraton Yogyakarta menu makanan pernikahan pangeran Harry bergantung kepada hasil panen musiman yang ada di Inggris. Menu khas Inggris mulai dari coklat truffle, asparagus, biskuit, dan creme brulee termasuk dalam sajian pernikahan Harry dan Meghan. Tidak ada pakem menu yang harus disuguhkan dalam royal wedding Inggris. Bahkan untuk tart sebagai kue utama saja keduanya bisa memilih alternatif dari tradisi fruit cake yang selama ini dipakai sebagai kue pernikahan.



Dalam royal wedding keraton jawa, setiap detail pernikahan royal wedding akan diurus oleh pegawai keraton yang disebut abdi dalem. Abdi dalem memiliki banyak divisi yang mengurusi urusan yang berbeda-beda, salah satunya adalah urusan pernikahan. “Jadi merekalah yang akan mengurus, karena harus tau adatnya, tata caranya. Bisa dibilang mereka itu EO-nya. Gabisa orang lain, karena prosesi ritualnya harus kena. EO dari luar mungkin acara pestanya, kalo spiritualnya dari keraton,” pungkasnya.

Sementara dalam royal wedding di Inggris, semua perencanaan akan diurus oleh Kensington Palace dengan masing-masing divisinya serta staff profesional untuk setiap detail penyelenggaraan acaranya .

Meski ada aturan ketat yang harus ditaati, royal wedding dewasa ini lebih terbuka dan luwes dengan perubahan. Jika royal wedding di masa lampau sangat tertutup dari rakyat biasa, royal wedding kini justru diekspos ke masyarakat. Keraton lebih mengambil pokok-pokok ritualnya saja. Tidak serumit zaman dulu.

Nah, bagaimana dengan kalian KLovers? Tertarik untuk melihat lebih detail tentang prosesi pernikahan royal wedding keraton Yogyakarta? Tunggu updatenya hanya di KapanLagi.com

(kpl/dka)


REKOMENDASI
TRENDING