Tya Ariestya Ajak Anak Coba Gultik, Tekankan Hidup Sederhana

Tya Ariestya Ajak Anak Coba Gultik, Tekankan Hidup Sederhana
Tya Ariestya dan keluarga © instagram.com/tya_ariestya

Tya Ariestya konsisten mengenalkan hidup sederhana kepada anak-anaknya meski berada dalam kondisi berkecukupan. Belum lama ini, ia mengajak putranya, Kanaka, mencicipi kuliner legendaris Gultik di pinggir jalan kawasan Mahakam.

"Karena kan ini enggak selamanya tuh bermewah-mewahan gitu. Kita juga harus bisa dan nanti juga punya teman juga kan enggak semua teman-temannya juga mungkin bisa berkelebihan seperti Kanaka alhamdulillah," ujar Tya Ariestya saat ditemui di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, Selasa (11/08/2026).

"Aku pengen dia bisa masuk ke semua kalangan. Jadi dari sekarang nih dia harus bisa makan di warteg pinter," sambungnya.

1. Tya Ariestya Ajarkan Kesederhanaan Sejak Dini

Tya Ariestya dan keluarga di mobil © instagram.com/tya_ariestya

Tya menyampaikan bahwa nilai kesederhanaan penting ditanamkan sedari kecil. Ia ingin Kanaka terbiasa dengan berbagai situasi, termasuk menikmati makanan kaki lima, bukan hanya pilihan yang serba nyaman.

Saat berbincang di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, Tya menegaskan tujuan utamanya adalah membekali anak untuk bisa berelasi dengan banyak orang dari latar sosial berbeda. Dorongan untuk berbaur ia mulai dari hal sederhana seperti pilihan tempat makan.

"Sejak dini juga ekonomi juga dari awal juga aku tetap harus ajarin ya karena kan perjalanan hidup itu kan panjang ya jadi kalau enggak dipupuk dari kecil enggak bisa. Sebenarnya kan kalau dilihat sebenarnya Kanaka tuh apa-apa bisa gampang lah gitu tapi Kanaka tetap belajar sesederhana mungkin sama anak-anak," ujar Tya Ariestya.

Baginya, mengenalkan realitas ekonomi sejak dini merupakan bekal penting untuk tumbuh. Ia ingin anak-anaknya memahami dan menghargai beragam kondisi yang ditemui dalam keseharian.

(Kebaikan Dolly Parton hingga Akhir Hayat, Rela Jadi Bahan Eksperimen Medis!)

2. Pengalaman Makan Gultik di Mahakam

Dalam kunjungan ke Mahakam, Tya mengajak Kanaka mencoba Gultik yang dikenal sebagai kuliner jalanan legendaris. Momen itu membuat Kanaka penasaran dengan porsi dan harga makanan yang disajikan.

"Terus sudah gitu kemarin baru tuh Kanaka nyobain makan Gultik. Oke di Mahakam. Terus sudah gitu dia nanya lagi, 'Bunda kok dikit banget nasinya?' Bunda ini satu nasinya berapa? Oke, nah ini gultik nasi gultik ini harganya cuma 7 ribu Kak," katanya.

"Harganya 7 ribu. Oh 7 ribu? Iya ya sudah nanti apa namanya karena kan memang dia enggak sewa tempat mungkin ya kita enggak tahu gitu tempatnya enggak bayar AC dan lain-lain jadi dia bisa kasih harga murah," sambung Tya Ariestya.

Tya menyebut Kanaka terkejut karena harga tersebut terasa jauh lebih murah dibandingkan jajanan di sekolah. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari anaknya menjadi bagian dari proses belajar memahami nilai dan harga.

3. Bangun Memori dan Hormati Ragam Ekonomi

Tya menekankan bahwa pengalaman sehari-hari yang membumi bersama keluarga menjadi cara untuk membangun memori yang kuat. Ia mengutamakan kebersamaan dan aktivitas sederhana dibanding memberikan barang-barang mahal.

"Bunda boleh enggak Bunda nanti kapan-kapan kita makan ke sini lagi? Aku suka nih Bunda. Memori yang dia ingat mungkin makan Gultik ya kan. Itu adalah memori yang diingat yang akan diingat sampai nanti dia dewasa nanti gitu. Pernah diaajakin Bunda makan di Gultik kayak gitu gitu. Jadi ya kita bikin memori yang banyak saja sih," kata Tya Ariestya.

Pengalaman mencicipi Gultik di pinggir jalan Mahakam menjadi salah satu momen yang membekas bagi Kanaka. Tya berharap kumpulan memori seperti ini menguatkan anak-anaknya untuk tumbuh tanpa memandang status sosial dan mampu bergaul dengan siapa saja.

(Ariel Tatum resmi ganti nama demi hormati Kakek dan Nenek.)

(kpl/phi)

Rekomendasi

Trending