SELEBRITI

Video Wawancara Kursi Kosong Viral, Najwa Shihab Sadar Akan Risiko Dituduh Membully Pejabat

Rabu, 30 September 2020 16:22

Najwa Shihab / Credit: Instagram - najwashihab

Kapanlagi.com - Dalam beberapa hari terakhir, sosok Najwa Shihab ramai jadi perbincangan netizen setelah videonya mewawancarai bangku kosong viral dan jadi trending di Twitter. Ceritanya, Najwa dan tim telah mengundang Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto untuk hadir di program Mata Najwa guna membahas perkembangan covid-19, namun tidak hadir.

Alih-alih membatalkan acara, Najwa pun berinisiatif untuk membuat konsep wawancara tersebut, sehingga akhirnya viral. Wanita berusia 43 tahun ini lantas membuat klarifikasi lewat akun Instagram pribadinya mengenai momen tersebut.

"Treatment menghadirkan bangku kosong ini mungkin baru sehingga terasa mengejutkan. Namun, sejujurnya, ini bukan ide yang baru-baru amat. Di negara dengan tradisi demokrasi dan debat yang lebih panjang dan kuat, misalnya Inggris atau Amerika, menghadirkan bangku kosong yang mestinya diisi pejabat publik sudah biasa," ungkap wanita yang akrab disapa Nana itu pada caption foto postingannya.

 

1. Bukan Wawancara Imajiner

Lebih lanjut, Najwa menjelaskan jika treatment yang dilakukannya itu bebeda dengan format wawancara imajiner karena dirinya hanya sedang mengajukan pertanyaan. Menurutnya, Menteri Terawan boleh menjawab semua pertanyaan yang diajukannya kapan saja dan di mana saja.

"Sebagai pengampu Mata Najwa, tentu saya berharap Ia bersedia hadir di program saya. Namun, sebagai bagian dari komunitas pers lebih luas dan juga seorang warga negara, saya sudah cukup senang jika Pak Menteri menjawab kegelisahan publik walau itu tidak dilakukan di #MataNajwa. Sebab kerja-kerja mengawasi proses politik dan pengambilan kebijakan adalah tugas bersama, dan saya percaya @Narasi.tv tidak sendirian melakukannya," sambung ibu 1 anak ini.

2. Sadar Akan Risiko

Najwa paham betul akan risiko-risiko yang bakal muncu kala dirinya membuat konsep wawancara bangku kosong tersebut. Salah satunya adalah tudingan persekusi atau bullying terhadap anggota pemerintahan. Namun Ia tidak cemas.

"Saya memikirkan dengan cukup masak saat menghadirkan bangku kosong ini, termasuk risiko dituduh melakukan persekusi atau bullying. Saya berkeyakinan, elite pejabat, apalagi eksekutif tertinggi setelah presiden, bukanlah pihak yang less power. Aspek penting yang menjadi prasyarat sebuah tindakan bisa disebut persekusi atau bullying. Sulit menganggap pejabat elite adalah pihak yang lemah," tambahnya.

"Saya tidak cemas dengan Pak Terawan, karena seorang yang menjadi menteri pastilah sosok mumpuni dan berpengalaman. Yang kita cemaskan adalah perkembangan pandemi ini. Dan karena itulah Pak Terawan menjadi penting karena, betapa pun banyaknya tim ad-hoc yang dibentuk, urusan kesehatan tetaplah pengampunya adalah Menteri Kesehatan," tutup Najwa.


REKOMENDASI
TRENDING