Apa Arti Flexing: Memahami Fenomena Pamer di Era Media Sosial

Apa Arti Flexing: Memahami Fenomena Pamer di Era Media Sosial
apa arti flexing

Kapanlagi.com - Istilah flexing semakin populer di kalangan pengguna media sosial Indonesia. Apa arti flexing sebenarnya menjadi pertanyaan yang sering muncul ketika melihat berbagai konten pamer di platform digital.

Flexing pada dasarnya adalah perilaku memamerkan kekayaan, prestasi, atau barang mewah di media sosial. Fenomena ini berkembang pesat seiring dengan meningkatnya penggunaan platform digital di masyarakat.

Menurut jurnal The Psychological Dynamics Of Flexing Behavior Among College Students, flexing merupakan istilah gaul yang menggambarkan perilaku seseorang yang berlebihan dalam menunjukkan sesuatu. Pemahaman mendalam tentang apa arti flexing penting untuk menghadapi fenomena sosial ini dengan bijak.

1. Pengertian dan Asal Usul Flexing

Pengertian dan Asal Usul Flexing (c) Ilustrasi AI

Flexing adalah tindakan memamerkan pencapaian, kekayaan, barang mewah, atau hal lain yang dianggap bernilai tinggi oleh seseorang melalui media sosial. Istilah ini berasal dari kata bahasa Inggris "flex" yang berarti fleksibel atau lentur, sedangkan "flexing" merujuk pada tindakan menunjukkan kemampuan atau kelebihan.

Menurut kamus Merriam Webster, flexing berasal dari kata flex yang bermakna menunjukkan atau mendemonstrasikan. Sebelum populer di media sosial, istilah ini sering digunakan dalam dunia ekonomi untuk menggambarkan perilaku memamerkan kekayaan dengan tujuan tertentu, seperti pemasaran atau investasi.

Sejarah mencatat bahwa asal-usul istilah flexing muncul pada era tahun 1990-an, bermula dari bahasa gaul masyarakat kulit hitam untuk "menunjukkan keberanian" atau "pamer". Pada tahun 1992, istilah flexing secara khusus juga digunakan oleh rapper Ice Cube melalui lagunya yang berjudul "It Was a Good Day".

Di Indonesia, istilah flexing mulai mencuat di dunia maya pascakemunculan fenomena baru tentang crazy rich yang ramai-ramai mengunggah kehidupan sosialnya yang cenderung suka pamer harta kekayaan. Fenomena ini kemudian berkembang menjadi budaya digital yang meluas di berbagai kalangan masyarakat.

2. Karakteristik dan Bentuk Perilaku Flexing

Karakteristik dan Bentuk Perilaku Flexing (c) Ilustrasi AI

Perilaku flexing memiliki karakteristik yang mudah dikenali di media sosial. Tindakan flexing biasanya tidak lepas dari upaya memamerkan harta melalui foto atau video, seperti memamerkan saldo rekening, barang mewah, perhiasan, rumah, kendaraan, dan barang-barang elektronik.

Menurut Cambridge Dictionary, flexing adalah tindakan untuk menunjukkan sesuatu yang dimiliki dengan cara yang dianggap orang lain tidak menyenangkan. Perilaku ini sering dilakukan oleh individu yang ingin terlihat sebagai bagian dari kelas sosial yang lebih tinggi.

Contoh paling mudah dari tindakan flexing adalah seorang influencer yang memamerkan tas buatan desainer ternama atau kemewahan lainnya lewat media sosial. Selain memamerkan kekayaan, tindakan flexing juga dapat berupa memamerkan perbuatan, seperti berfoto saat akan melaksanakan sholat, mengaji, atau bersedekah yang kemudian diposting ke media sosial.

Fenomena flexing tidak hanya terjadi di kalangan atas, tetapi juga kalangan menengah hingga bawah yang berusaha memenuhi tuntutan gaya hidup modern melalui berbagai cara. Hal ini menunjukkan bahwa flexing telah menjadi fenomena lintas kelas sosial dalam masyarakat digital.

3. Faktor Penyebab Munculnya Perilaku Flexing

Faktor Penyebab Munculnya Perilaku Flexing (c) Ilustrasi AI

Beberapa faktor psikologis dan sosial menjadi penyebab seseorang melakukan flexing. Faktor utama yang mendorong perilaku ini antara lain:

  1. Insecure atau Rasa Tidak Aman - Flexing dapat terjadi karena kondisi insecure dalam diri seseorang. Mereka melakukan tindakan flexing ketika merasa keberadaan dirinya kurang dihargai atau kurang dianggap penting oleh orang lain.
  2. Kurangnya Empati - Kebanyakan pelaku flexing tidak menyadari bahwa perilaku yang dilakukannya dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman atau terganggu. Hal ini menunjukkan kurangnya rasa empati pada diri mereka.
  3. Masalah Kepribadian - Tindakan flexing dapat dipengaruhi oleh permasalahan dalam kepribadian seseorang. Beberapa masalah kepribadian dapat menyebabkan seseorang suka mencari perhatian dan membutuhkan pengakuan dari orang lain.
  4. Tekanan Sosial - Tekanan sosial di lingkungan sekitar dapat mendorong seseorang melakukan flexing. Contohnya adalah tuntutan gaya hidup dalam pergaulan yang memaksa seseorang untuk tampil dengan standar tertentu.
  5. Mencari Perhatian dan Validasi - Salah satu penyebab utama flexing adalah keinginan untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang lain, terutama di media sosial.

Melansir dari kejati-jatim.go.id, fenomena flexing muncul dari sekelompok orang yang terdorong untuk tampil dan mendapat pengakuan. Tujuan pamer antara lain agar dianggap hebat dan memiliki kedudukan lebih sehingga dihormati, namun mereka tidak memahami bahwa tujuan bermedia sosial adalah terhubung dengan banyak orang bukan untuk pamer.

4. Dampak Negatif dari Perilaku Flexing

Dampak Negatif dari Perilaku Flexing (c) Ilustrasi AI

Perilaku flexing dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik bagi pelaku maupun masyarakat sekitar. Dampak-dampak tersebut meliputi:

  1. Potensi Memaksakan Keadaan - Pelaku flexing yang terbiasa tampil dengan barang-barang mewah cenderung ingin selalu menunjukkan eksistensinya. Hal ini berbahaya ketika mereka tidak mampu memenuhi keinginan tersebut, sehingga dapat mengarah pada pemaksaan atau bahkan tindakan yang merugikan.
  2. Kesulitan Mendapatkan Teman Sejati - Meskipun flexing dapat menarik perhatian, namun sebuah studi menunjukkan bahwa kebanyakan orang lebih senang berteman dengan mereka yang memiliki keadaan standar daripada yang suka pamer kekayaan.
  3. Gangguan Kepribadian - Menurut psikolog di Knox College, penulis buku The High Price of Materialism, seseorang yang melakukan flexing memiliki sifat kurang empati, kurang prososial, dan lebih kompetitif, sehingga dapat mengganggu kepribadiannya sendiri.
  4. Kecemburuan Sosial - Memamerkan kekayaan melalui barang bermerek, mobil mewah, atau makan di restoran mahal dapat memicu kecemburuan sosial di kalangan masyarakat menengah ke bawah.
  5. Peningkatan Utang Konsumtif - Demi gengsi, banyak orang rela berhutang untuk membeli atau menyewa barang mewah yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.

Dampak negatif lainnya adalah terciptanya budaya pamer yang menjadi tren, di mana mereka yang hidup melebihi kemampuan ekonomi sering mendapatkan pengakuan sosial meskipun realitanya tidak sesuai. Hal ini mendorong masyarakat menjadi konsumtif bukan berdasarkan kebutuhan, tetapi karena tren yang mempengaruhi gaya hidup.

5. Cara Bijak Menyikapi Fenomena Flexing

Cara Bijak Menyikapi Fenomena Flexing (c) Ilustrasi AI

Menghadapi fenomena flexing memerlukan sikap yang bijak dan dewasa. Berikut adalah cara-cara yang dapat diterapkan untuk menyikapi perilaku flexing:

  1. Berpikir Kritis - Biasakan diri untuk mencari tahu fakta dan data dari setiap informasi yang diterima. Jangan langsung memberikan respons atau menyerap informasi tanpa memverifikasi kebenarannya terlebih dahulu.
  2. Tidak Perlu Dihiraukan - Jika seseorang melakukan flexing dalam hal positif dan memotivasi, seperti memamerkan kelulusan dengan beasiswa, dapat diambil sebagai inspirasi. Namun jika hanya memamerkan barang mewah, sebaiknya diabaikan saja.
  3. Hindari Persaingan - Usahakan untuk menghindari keinginan bersaing dengan pelaku flexing, karena hal itu hanya akan menambah beban pikiran. Tidak ada pemenang dalam perlombaan siapa yang memiliki kehidupan terbaik.
  4. Filter Media Sosial - Lakukan kurasi konten media sosial dengan bijak. Unfollow atau mute akun yang sering melakukan flexing berlebihan jika hal tersebut mengganggu kesehatan mental.
  5. Fokus pada Tujuan Pribadi - Tetap fokus pada pencapaian dan tujuan hidup sendiri. Setiap orang memiliki jalan dan waktu pencapaian yang berbeda-beda.
  6. Bersyukur dan Jaga Kepercayaan Diri - Selalu bersyukur atas apa yang sudah dimiliki dan hadapi situasi dengan rasa percaya diri. Jangan biarkan aksi pamer orang lain membuat merasa rendah diri.
  7. Hadapi dengan Santai - Saat berhadapan dengan pelaku flexing, tidak perlu bereaksi berlebihan. Tetap santai dan pahami bahwa mereka mungkin sedang mencari pengakuan atau validasi.

Yang terpenting adalah tidak mencoba mempermalukan pelaku flexing, karena hal ini hanya akan membuat mereka semakin agresif. Lebih baik fokus pada pengembangan diri dan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, karena ini akan lebih bermanfaat bagi pertumbuhan pribadi dan kesejahteraan.

6. FAQ (Frequently Asked Questions)

FAQ (Frequently Asked Questions) (c) Ilustrasi AI

Apa arti flexing dalam bahasa gaul?

Flexing dalam bahasa gaul adalah istilah untuk menggambarkan perilaku seseorang yang suka memamerkan kekayaan, barang mewah, atau prestasi di media sosial. Istilah ini berasal dari kata bahasa Inggris "flex" yang berarti menunjukkan atau mendemonstrasikan sesuatu secara mencolok.

Mengapa orang suka melakukan flexing?

Orang melakukan flexing karena berbagai alasan, seperti rasa insecure, ingin mendapat pengakuan sosial, mencari perhatian, tekanan sosial dari lingkungan, atau masalah kepribadian yang membuat mereka butuh validasi dari orang lain.

Apakah flexing selalu berdampak negatif?

Tidak selalu. Flexing dapat berdampak positif jika dilakukan untuk tujuan yang baik, seperti strategi marketing yang sah atau memotivasi orang lain. Namun flexing menjadi negatif ketika dilakukan berlebihan hanya untuk pamer dan dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Bagaimana cara menghindari perilaku flexing?

Cara menghindari flexing antara lain dengan berpikir kritis sebelum posting, fokus pada tujuan pribadi, bersyukur dengan apa yang dimiliki, tidak mencari validasi berlebihan dari orang lain, dan menggunakan media sosial secara bijak.

Apa perbedaan flexing dengan berbagi kebahagiaan di media sosial?

Berbagi kebahagiaan dilakukan dengan tulus dan tidak berlebihan, sedangkan flexing cenderung berlebihan dan bertujuan untuk pamer atau mencari pengakuan. Berbagi kebahagiaan juga biasanya tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman atau iri.

Apakah flexing termasuk perilaku yang dilarang agama?

Dalam pandangan agama, khususnya Islam, flexing yang berupa pamer harta dapat dikategorikan sebagai sombong, sedangkan memamerkan ibadah dapat disebut riya'. Kedua hal ini tidak disukai dalam ajaran agama karena bertentangan dengan nilai kerendahan hati dan keikhlasan.

Bagaimana dampak flexing terhadap kesehatan mental?

Flexing dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, baik bagi pelaku maupun yang melihatnya. Pelaku dapat mengalami tekanan untuk terus mempertahankan image, sedangkan yang melihat dapat merasa insecure, iri, atau tertekan karena membandingkan diri dengan orang lain.

(kpl/fds)

Rekomendasi
Trending