Mandi Sunnah Hari Arafah, Hukum Dalil dan Tata Cara Lengkap bagi Jamaah Haji
mandi sunnah hari arafah (h)
Kapanlagi.com - Hari Arafah merupakan puncak rangkaian ibadah haji yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah setiap tahunnya. Salah satu amalan yang dianjurkan pada hari tersebut adalah melaksanakan mandi sunnah hari Arafah sebelum wukuf di Padang Arafah.
Mandi sunnah ini bertujuan untuk menjaga kebersihan dan kesucian diri saat berkumpul dengan jutaan jamaah haji lainnya. Para ulama dari berbagai mazhab sepakat bahwa mandi sunnah hari Arafah memiliki dasar yang kuat dari praktik para sahabat Nabi.
Perlu dipahami bahwa mandi untuk hari Arafah bukan diperuntukkan bagi setiap Muslim, melainkan hanya bagi jamaah haji saja. Dilansir dari IslamQA.info, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa tidak dinukil baik dari Nabi maupun dari para sahabat dalam haji kecuali tiga mandi, yaitu mandi ihram, mandi ketika masuk Mekah, dan mandi hari Arafah.
Advertisement
1. Pengertian Mandi Sunnah Hari Arafah dalam Islam
Dalam istilah fikih Islam, mandi sunnah hari Arafah merujuk pada ritual ghusl (mandi besar) yang dilakukan oleh jamaah haji pada tanggal 9 Dzulhijjah sebelum melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Ghusl sendiri merupakan ritual pembersihan seluruh tubuh yang menjadi bagian penting dalam konsep bersuci dalam Islam. Dalam hukum Islam, ghusl dianggap sebagai ibadah dan merupakan tindakan menyucikan diri dari ketidaksucian ritual.

Berbeda dengan mandi wajib (ghusl janabat) yang hukumnya fardhu dalam kondisi tertentu, mandi pada hari Arafah bersifat anjuran. Tidak disyaratkan bersuci ketika wukuf di Arafah, dan para ulama sepakat bahwa wukuf orang yang haid maupun junub tetap sah. Namun, dianjurkan bagi yang wukuf di Arafah untuk bersih dari hadas besar dan kecil, karena ia akan menyebut nama Allah sehingga dianjurkan berwudhu saat mengingat Allah.
Mengacu pada IslamQA.info, menurut para fuqaha, istilah mustahab merujuk pada sunnah yang tidak ditekankan (sunnah ghair muakkadah), yakni sesuatu yang Rasulullah tidak melakukannya secara terus-menerus. Dengan demikian, pelaksanaan mandi sunnah pada hari Arafah membawa pahala bagi yang mengerjakannya, namun tidak ada dosa bagi yang meninggalkannya.
Hari Arafah jatuh pada hari kesembilan bulan Dzulhijjah dalam kalender Islam lunar dan merupakan hari kedua dari perjalanan haji, diikuti oleh hari raya Idul Adha. Pada fajar hari ini, jamaah haji berangkat dari Mina menuju bukit dan dataran yang disebut Gunung Arafat dan Padang Arafah di Arab Saudi. Momen inilah yang menjadikan mandi sunnah hari Arafah memiliki urgensi tersendiri bagi para jamaah.
Baca juga: Ibadah Sunnah Saat Haji dan Panduan Lengkap Cara Melaksanakannya
2. Dalil dan Dasar Hukum Mandi Sunnah Hari Arafah
Dalil utama yang menjadi landasan anjuran mandi sunnah hari Arafah berasal dari atsar (perbuatan) para sahabat Nabi, bukan dari hadis marfu' (yang langsung dinisbatkan kepada Rasulullah SAW). Meskipun demikian, praktik ini memiliki pondasi yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam.
Telah terbukti dari lebih dari satu orang sahabat bahwa mereka melakukan ghusl pada hari Arafah, seperti Ibnu Mas'ud, Ibnu Umar, dan Ali radhiyallahu anhum. Al-Baihaqi (6124) meriwayatkan bahwa Zaadhan berkata, seorang bertanya kepada Ali tentang mandi. Ali menjawab, "Pada hari Jumat, hari Arafah, hari Nahr (Idul Adha), dan hari Fitri (Idul Fitri)." Atsar ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa' (1/177).
Selain atsar Ali bin Abi Thalib, terdapat pula riwayat dari Imam Malik dalam kitab Al-Muwaththa' yang menyebutkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu anhu biasa mandi di Arafah pada hari Arafah. Imam Muhammad menyatakan dalam Al-Muwaththa' bahwa hal ini baik (hasan) dan tidak wajib. Riwayat ini menunjukkan bahwa praktik mandi sunnah saat haji telah dikenal sejak generasi awal umat Islam.
Ibnu Majah (1316) meriwayatkan dari al-Faakih ibn Sa'd bahwa Rasulullah biasa melakukan ghusl pada hari Idul Fitri, hari Nahr, dan hari Arafah. Namun hadis ini adalah hadis palsu (mawdhu'), sebagaimana dinyatakan oleh Al-Albani dalam Dha'if Ibnu Majah. Oleh karena itu, dasar utama anjuran ini tetap berpijak pada praktik para sahabat.
Sebagaimana dikutip dari Islamic Portal, diriwayatkan bahwa Ali ibn Abi Thalib melakukan ghusl pada hari Arafah dan menganjurkannya.
3. Pandangan Empat Mazhab tentang Mandi Sunnah Hari Arafah
Keempat mazhab besar dalam Islam memiliki pandangan yang selaras mengenai anjuran mandi sunnah hari Arafah, meskipun terdapat perbedaan dalam tingkat penekanannya. Berikut penjelasan dari masing-masing mazhab berdasarkan sumber yang relevan.
- Mazhab Syafi'i. Mazhab Syafi'i berpendapat bahwa mandi untuk wukuf di Arafah hukumnya sunnah. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin bahkan menyebutkan bahwa mandi sebelum wukuf di Arafah termasuk salah satu dari sembilan mandi yang disunnahkan selama haji dan umrah.
- Mazhab Hanbali. Mazhab Hanbali juga memandang bahwa mandi untuk wukuf di Arafah hukumnya sunnah, berdasarkan riwayat dari Ali, Ibnu Mas'ud, dan Ibnu Umar yang biasa melakukan ghusl saat berangkat ke Arafah.
- Mazhab Maliki. Dalam mazhab Maliki terdapat dua pendapat. Menurut pendapat resmi mazhab Maliki, mandi pada hari Arafah hukumnya mustahab. Sementara pendapat lain dalam mazhab ini menganggapnya sunnah.
- Mazhab Hanafi. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa melakukan ghusl pada hari Arafah hukumnya mustahab. Berdasarkan penjelasan TheRevival.co.uk, mandi pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) termasuk sunnah.
- Kesepakatan. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa empat mazhab sepakat bahwa mandi pada hari Arafah disyariatkan, dan orang yang melaksanakannya akan mendapat pahala. Dalil anjurannya adalah perbuatan para sahabat.
Merujuk Islamic Portal, para fuqaha memiliki pandangan beragam mengenai apakah anjuran ini berlaku bagi non-jamaah haji. Menurut banyak ulama, anjuran ini tidak berlaku bagi non-jamaah haji, namun jika seseorang ingin melakukannya maka tidak ada larangan. Perbedaan ini menjadi penting untuk dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman di kalangan umat Islam yang tidak berhaji.
4. Tata Cara Mandi Sunnah Hari Arafah yang Benar
Mandi sunnah hari Arafah dilaksanakan dengan cara yang sama seperti ghusl pada umumnya, namun dengan memperhatikan kondisi ihram yang sedang dijalani jamaah haji. Berikut langkah-langkah yang perlu diperhatikan.
- Niatkan mandi karena Allah SWT. Sebelum memulai, jamaah haji hendaknya berniat di dalam hati untuk melaksanakan mandi sunnah hari Arafah. Niat merupakan fondasi setiap ibadah dalam Islam.
- Basuh kedua tangan sebanyak tiga kali. Mulailah dengan mencuci kedua tangan hingga pergelangan sebagai langkah awal membersihkan diri secara menyeluruh.
- Bersihkan area kemaluan. Bersihkan bagian kemaluan dan kotoran yang menempel pada tubuh sebelum berwudhu.
- Lakukan wudhu sempurna. Berwudhu seperti wudhu untuk shalat, termasuk berkumur dan menghirup air ke hidung. Boleh menunda membasuh kaki hingga akhir mandi.
- Siramkan air ke kepala sebanyak tiga kali. Pastikan air meresap hingga ke pangkal rambut dan kulit kepala. Gunakan jari untuk menyela-nyela rambut agar air merata.
- Basuh seluruh tubuh dimulai dari sisi kanan. Siramkan air ke seluruh tubuh mulai dari bagian kanan terlebih dahulu, kemudian bagian kiri. Pastikan tidak ada bagian yang terlewat.
- Perhatikan ketentuan ihram. Ketentuan ihram tetap berlaku, sehingga perlu kehati-hatian ekstra saat melakukan ghusl, yaitu tidak menggosok keras dan memastikan sabun atau sampo yang digunakan tidak beraroma jika dipakai.
Berdasarkan HajjUmrahPlanner.com, melakukan ghusl pada hari Arafat hukumnya sunnah. Ghusl ini bisa dilakukan di Arafat sebelum wukuf atau bisa dilakukan di Mina sebelum berangkat ke Arafat. Jamaah haji bisa memilih waktu yang paling nyaman, asalkan dilakukan sebelum pelaksanaan wukuf di Padang Arafah.
Berkaitan dengan penggunaan sabun saat ihram, sebagaimana dilaporkan Dar Al-Ifta Mesir, diperbolehkan bagi jamaah yang sedang ihram untuk mandi dengan air dan sabun tanpa pewangi. Hal ini memberikan keringanan bagi jamaah yang perlu menjaga kebersihan di tengah cuaca panas Arab Saudi.
5. Amalan Sunnah Lainnya pada Hari Arafah
Selain mandi sunnah hari Arafah, terdapat berbagai amalan lain yang sangat dianjurkan pada hari ke-9 Dzulhijjah. Hari Arafah disebut sebagai hari paling agung dalam setahun, sehingga momen ini harus dimanfaatkan secara maksimal oleh setiap Muslim.
Sebagaimana dikutip dari Islamic Relief Worldwide, Hari Arafah merupakan hari pengampunan ilahi, rahmat, dan keberkahan yang sangat besar. Ini adalah hari penebusan bagi umat Islam dan kesempatan untuk penyucian serta meraih ridha Allah.
- Puasa Arafah bagi yang tidak berhaji. Abu Qatadah Al-Ansari meriwayatkan bahwa Rasulullah ditanya tentang puasa pada hari Arafah. Beliau menjawab, "Puasa pada hari Arafah adalah penebus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya." Pahala ini menjadikan puasa Arafah sebagai amalan terbaik bagi yang tidak menunaikan haji.
- Memperbanyak doa dan istighfar. Hari Arafah adalah hari utama untuk berdoa, memohon ampunan, petunjuk, kesehatan, rezeki, dan keberhasilan di dunia maupun akhirat.
- Membaca tahlil, takbir, dan tahmid. Merupakan sunnah Nabi untuk membaca Tahlil (Laa ilaaha illallah), Takbir (Allahu Akbar), dan Tahmid (Alhamdulillah) sebanyak mungkin pada hari Arafah. Bacaan dzikir lengkap bisa diamalkan sejak pagi hingga malam hari.
- Menjamak shalat Dzuhur dan Ashar. Di Masjid al-Namirah, jamaah menunaikan shalat Dzuhur dan Ashar secara jamak pada waktu Dzuhur. Ini merupakan praktik yang dilakukan Rasulullah SAW saat haji wada'.
- Berwukuf dengan tenang dan khusyuk. Jamaah berdiri dalam perenungan khusyuk, memanjatkan doa, bertaubat, dan memohon rahmat Allah, serta mendengarkan ceramah ulama dari dekat Gunung Arafat. Berlangsung dari tengah hari hingga matahari terbenam, ini dikenal sebagai wukuf (standing before God), salah satu ritual haji yang paling penting.
- Bersedekah. Bersedekah merupakan salah satu ibadah paling utama, dan memberikan sedekah pada hari suci ini dapat membantu meraih keberkahan.
Baca juga: Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah dan Amalan yang Dianjurkan
Perlu dicatat bahwa bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah, tidak dianjurkan berpuasa agar tetap kuat beribadah sepanjang hari. Bagi jamaah yang sedang berhaji dan berada secara fisik di Arafah, sunnah Nabi adalah untuk tidak berpuasa. Nabi Muhammad meminum susu di atas untanya di Arafah agar orang-orang bisa melihat bahwa beliau tidak sedang berpuasa.
Mengacu pada Muslim Hands UK, sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan hari-hari terbaik dalam keseluruhan tahun Islam. Nabi SAW bersabda, "Tidak ada hari-hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah selain sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini." Oleh karena itu, memperbanyak amalan di hari-hari ini menjadi anjuran yang sangat ditekankan.
Baca juga: Ibadah di Bulan Dzulhijjah yang Dianjurkan beserta Keutamaan dan Panduan Lengkapnya
6. FAQ Seputar Mandi Sunnah Hari Arafah
Apakah mandi sunnah hari Arafah wajib dilakukan oleh semua jamaah haji?
Mandi sunnah hari Arafah tidak wajib dilakukan. Hukumnya adalah mustahab atau sunnah, yang berarti dianjurkan tetapi tidak berdosa jika meninggalkannya. Keempat mazhab sepakat bahwa mandi ini disyariatkan dan orang yang melaksanakannya akan mendapat pahala, dengan dalil berupa perbuatan para sahabat. Jamaah yang tidak melaksanakan mandi ini hajinya tetap sah tanpa perlu membayar dam atau denda apapun.
Kapan waktu terbaik untuk melaksanakan mandi sunnah hari Arafah?
Waktu terbaik untuk melaksanakan mandi sunnah hari Arafah adalah sebelum wukuf pada sore hari. Setelah waktu Dzuhur, jika belum melakukannya di Mina, jamaah dapat melakukan ghusl di Arafah. Jamaah juga bisa melakukannya di Mina sebelum berangkat ke Arafat pagi hari. Mengenai mandi pada tanggal 9 Dzulhijjah, lebih baik dilaksanakan mendekati waktu tengah hari. Pilihlah waktu yang paling memungkinkan mengingat kondisi fasilitas di lokasi ibadah haji.
Apakah umat Islam yang tidak berhaji juga perlu mandi sunnah pada hari Arafah?
Mengenai hal ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Mandi sunnah pada hari Arafah hukumnya mustahab bagi jamaah haji. Para fuqaha memiliki pandangan beragam apakah anjuran ini berlaku bagi non-jamaah haji. Menurut banyak ulama, anjuran ini tidak berlaku bagi non-jamaah haji, namun jika seseorang ingin melakukannya maka tidak ada larangan. Bagi umat Islam yang tidak berhaji, amalan yang lebih diutamakan adalah berpuasa Arafah, memperbanyak doa, dzikir, dan amalan sunnah lainnya.
Daftar Referensi
- IslamQA.info. Is it Sunnah to do ghusl on the Day of 'Arafah? Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://islamqa.info/en/answers/236735
- Islamic Portal. Is Ghusl on the day of Arafah Sunnah? Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://islamicportal.co.uk/is-ghusl-on-the-day-of-arafah-sunnah/
- Islamic Relief Worldwide. The Day of Arafah 2026. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://islamic-relief.org/qurbani/the-day-of-arafah/
- HajjUmrahPlanner.com. Hajj Day 2: 9th of Dhul Hijjah (Day of Arafat). Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://hajjumrahplanner.com/day-2-9th-of-dhul-hijjah-arafat/
- Muslim Hands UK. The Day of 'Arafah: Your Questions Answered. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://muslimhands.org.uk/islamic-resources/the-day-of-arafah-all-your-questions-answered
(kpl/fed)
Advertisement
D Academy 8
-
Ulang Tahun Selebritis Ulang Tahun Soimah Dirayakan di Panggung Dangdut Academy 8