Teks Maulid Simtudduror: Pengertian, Sejarah, Isi, dan Keutamaannya

Teks Maulid Simtudduror: Pengertian, Sejarah, Isi, dan Keutamaannya
teks maulid simtudduror (h)

Kapanlagi.com - Teks Maulid Simtudduror merupakan salah satu karya sastra Islam paling masyhur yang berisi rangkaian sholawat sekaligus kisah kelahiran dan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Bacaan ini rutin dilantunkan pada peringatan Maulid Nabi, majelis taklim, hingga beragam acara keagamaan di berbagai penjuru Nusantara.

Karya ini disusun oleh Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, seorang ulama besar asal Hadhramaut, Yaman. Karena keindahan bahasa dan kedalaman maknanya, teks maulid Simtudduror juga populer dengan sebutan Maulid Al-Habsyi.

Berdasarkan penelitian dalam jurnal Center of Middle Eastern Studies (CMES) Universitas Sebelas Maret, sholawat Simtud Durar tergolong teks yang paling berpengaruh dan berperan sebagai doa, pujian kepada Nabi, sekaligus sarana dakwah dan identifikasi budaya. Kajian tersebut turut menyoroti kekayaan simbol di dalamnya, seperti cahaya (nur) yang memaknai petunjuk kenabian serta mutiara sebagai lambang nilai spiritual.

1. Pengertian Teks Maulid Simtudduror

Secara bahasa, kata maulid berasal dari bahasa Arab yang berarti kelahiran, sedangkan simtud durar bermakna untaian atau kalung mutiara. Dengan demikian, teks maulid Simtudduror dapat dipahami sebagai untaian bait laksana mutiara yang merangkai kisah kelahiran manusia paling mulia, Nabi Muhammad SAW.

Judul lengkap kitab ini adalah Simtud Durar fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar. Dalam bahasa Indonesia, judul tersebut kerap diterjemahkan menjadi "Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat, dan Riwayat Hidupnya".

Isi kitab memadukan bait-bait sholawat dengan sirah atau riwayat hidup Rasulullah, mulai dari cahaya penciptaan hingga detik-detik kelahiran beliau. Bersama Barzanji, Diba'i, Syaraful Anam, dan Burdah, Simtudduror menjadi salah satu bacaan yang paling sering dilantunkan umat Islam, terutama saat peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal.

Sebagai sebuah teks pujian, Simtudduror pada hakikatnya adalah wujud sholawat dan penghormatan kepada Rasulullah. Membacanya sejajar dengan tradisi memperbanyak bacaan sholawat nabi yang dianjurkan sebagai bentuk cinta seorang Muslim kepada junjungannya, sebab menurut para ulama makna sholawat dari Allah adalah tambahan kemuliaan bagi Nabi.

2. Mengenal Habib Ali Al-Habsyi, Penyusun Teks Maulid Simtudduror

Nama lengkap penyusun teks maulid Simtudduror adalah Al-Habib Al-Imam Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi. Beliau lahir pada 24 Syawal 1259 H (1839 M) di Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, Yaman, dengan silsilah nasab yang bersambung langsung hingga Rasulullah SAW melalui jalur Imam Husain.

Sejak usia muda, Habib Ali telah mengkhatamkan Al-Qur'an dan menguasai berbagai ilmu lahir maupun batin. Kematangan ilmunya membuat beliau dipercaya memimpin banyak majelis ilmu dan menjadi salah satu tokoh terkemuka dalam tarekat Alawiyah.

Di antara karya-karyanya yang masyhur terdapat tiga kitab utama, yakni Simtud Durar, Diwan yang memuat puluhan qasidah, serta Lataif al-Arsyiyah. Beliau menyusun Maulid Simtudduror pada usia 68 tahun, mulai ditulis pada Kamis 26 Safar 1327 H dan disempurnakan pada 10 Rabiul Awal tahun yang sama, sebelum wafat pada 1333 H (1913 M) di Kota Seiwun. Putra bungsunya, Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, kelak mendirikan Masjid Ar-Riyadh di Pasar Kliwon, Solo, dan menjadi orang pertama yang menggelar pembacaan maulid ini di Indonesia. Baca juga: ungkapan cinta kepada Rasulullah.

Habib Ali dikenal memiliki keterikatan batin yang sangat kuat dengan Rasulullah SAW dan memandang karya ini sebagai hadiah bagi generasi umat pada masa mendatang. Habib Ali Al-Habsyi, dikutip dari Sakina Publishing, menuturkan, "Di dalam Maulid ini tersimpan rahasia yang agung; setiap kali aku membacanya atau mendengarnya, aku menerima bukaan spiritual yang baru, seolah-olah ia tidak benar-benar keluar dari lisanku."

3. Struktur dan Isi Teks Maulid Simtudduror

Teks maulid Simtudduror tersusun dari beberapa bagian yang berpadu antara prosa berirama (natsr) dan syair (nazham). Secara garis besar terdapat kurang lebih lima belas pasal yang memuat kisah serta pujian kepada Nabi secara berurutan.

Mengacu pada kajian yang dipublikasikan di academia.edu, gaya bahasa Simtud Durar sangat kaya akan pengulangan atau repetisi yang terbagi ke dalam enam jenis, di antaranya tikrar lafdzi, tikrar taukidi, dan jinas. Pengulangan ini berfungsi menegaskan makna sekaligus memberi kesan mendalam di hati dan pikiran pembacanya.

  1. Sholawat pembuka - berupa qasidah "Ya Rabbi Shalli 'ala Muhammad" yang berisi permohonan rahmat bagi Nabi.
  2. Muqaddimah - pembukaan berupa pujian kepada Allah (Tajallal Haqqu) dan penegasan dua kalimat syahadat.
  3. Kisah nur Muhammad - bagian prosa yang menuturkan penciptaan cahaya Nabi dan perpindahannya dari sulbi ke sulbi hingga sampai kepada ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib, serta ibunda Aminah.
  4. Kisah kelahiran - riwayat detik-detik kelahiran Rasulullah yang diliputi keajaiban dan cahaya.
  5. Mahalul Qiyam - bait "Asyraqal Kaun" yang lazim dibaca sambil berdiri sebagai bentuk penghormatan atas kehadiran Nabi yang bernama Ahmad.
  6. Qasidah pujian dan doa penutup - rangkaian syair pujian yang ditutup dengan untaian doa.

Baca juga: kata-kata untuk Nabi Muhammad yang penuh keteladanan.

4. Cara Membaca Teks Maulid Simtudduror dan Lafal Sholawatnya

Tidak ada waktu khusus yang mengikat untuk membaca teks maulid Simtudduror, sehingga dapat dilantunkan kapan saja selama berada di tempat yang layak dan bersih. Meski begitu, pembacaannya paling semarak ketika memasuki bulan Rabiul Awal maupun pada malam-malam tertentu seperti malam Jumat.

  1. Membuka dengan membaca Surah Al-Fatihah yang dihadiahkan untuk Nabi Muhammad SAW.
  2. Membaca Al-Fatihah untuk penyusunnya, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.
  3. Melafalkan doa tawassul sebagai pengantar sebelum masuk ke bait maulid.
  4. Melantunkan sholawat pembuka, lalu membaca bait-bait kisah maulid secara berurutan.
  5. Berdiri (mahalul qiyam) ketika sampai pada bait "Asyraqal Kaun".
  6. Menutup seluruh rangkaian dengan pembacaan doa maulid.

Sebagaimana dihimpun laman Quran NU, berikut lafal sholawat pembuka yang mengiringi teks maulid Simtudduror:

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ مَا لَاحَ فِي الْأُفْقِ نُوْرُ كَوْكَبْ

Ya rabbi shalli 'ala Muhammad, ma laha fil-ufqi nuru kaukab.

Artinya: "Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad. Selama cahaya bintang masih bersinar di ufuk."

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ اَلْفَاتِحِ الْخَاتِمِ الْمُقَرَّبْ

Ya rabbi shalli 'ala Muhammad, al-fatihil khatimil muqarrab.

Artinya: "Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat bagi Nabi Muhammad, sang pembuka, penutup, dan hamba yang didekatkan."

Selain dibaca secara tartil, bait-bait Simtudduror juga kerap dilantunkan dengan irama khas. Bagi yang ingin memperkaya khazanah lantunan sholawat, banyak pula pujian lain yang dapat dipelajari, seperti makna lagu sholawat yang mengisahkan perjalanan hidup Nabi. Baca juga: kata-kata Maulid Nabi penuh makna.

5. Keutamaan Membaca Teks Maulid Simtudduror

Membaca teks maulid Simtudduror diyakini mendatangkan beragam keutamaan, baik dari sisi keilmuan maupun kedekatan spiritual dengan Rasulullah. Keutamaan ini bahkan disampaikan langsung oleh penyusunnya dan para ulama sesudahnya.

Dalam kitab At-Ta'rif bil Maulid min Kalami Shahibil Maulid, Habib Ali Al-Habsyi menegaskan, "Maulidku ini (Simthud Durar) sangat bermanfaat. Barang siapa yang tekun membacanya, menghafalnya, dan menjadikannya sebagai wirid, maka akan ditampakkan kepadanya rahasia (sir) Rasulullah SAW."

Keutamaan lain adalah menjadi sebab futuh atau terbukanya kepahaman ilmu, sebagaimana dialami Habib Umar bin Idrus al-Idrus. Ia menyatakan, "Barang siapa yang hendak diberi futuh, hendaklah ia menghafalkan maulid tersebut atau menuliskannya," yang dalam bahasa Arab tertulis: مَنْ أَرَادَ الْفَتْحَ، فَلْيَحْفَظِ الْمَوْلِدَ أَوْ يَكْتُبَهُ.

  1. Menumbuhkan cinta dan kerinduan kepada Nabi Muhammad SAW.
  2. Mengenal sirah, akhlak, dan sifat-sifat mulia Rasulullah secara utuh.
  3. Menjadi sebab futuh atau terbukanya kepahaman ilmu bagi yang mengamalkannya.
  4. Termasuk amalan bersholawat yang berpahala besar dan menjadi wasilah syafaat.
  5. Menghadirkan keberkahan serta ketenangan dalam sebuah majelis.
  6. Memperkuat ukhuwah dan identitas keislaman di tengah masyarakat.

Karena besarnya manfaat tersebut, para ulama menganjurkan agar Simtudduror dijadikan wirid yang dibaca secara istiqamah. Baca juga: keutamaan membaca sholawat dan amalan dzikir lain yang dianjurkan, serta kumpulan ucapan Maulid Nabi yang sarat berkah.

Pada akhirnya, teks maulid Simtudduror bukan sekadar bacaan seremonial, melainkan jembatan untuk mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah SAW. Menjadikannya bagian dari rutinitas ibadah dapat menumbuhkan ketenangan hati sekaligus menyuburkan tradisi cinta Islami dan kata mutiara penuh makna di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

6. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Maulid Simtudduror

Apa itu Maulid Simtudduror?

Maulid Simtudduror adalah kitab maulid berisi rangkaian sholawat dan kisah kelahiran serta keteladanan Nabi Muhammad SAW. Judul lengkapnya Simtud Durar fi Akhbar Maulid Khairil Basyar, yang berarti untaian mutiara kisah kelahiran manusia utama, dan kerap dibaca dalam berbagai acara keagamaan.

Siapa pengarang Maulid Simtudduror?

Maulid Simtudduror disusun oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi, ulama besar asal Qasam, Hadhramaut, Yaman. Beliau mengarang kitab ini pada usia 68 tahun, sehingga dikenal sebagai sahibul maulid Simtudduror.

Kapan Maulid Simtudduror dibaca?

Tidak ada waktu khusus yang mengikat, sehingga Maulid Simtudduror boleh dibaca kapan saja. Namun bacaan ini paling sering dilantunkan saat peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, malam Jumat, serta acara syukuran seperti pernikahan dan kelahiran anak.

Daftar Referensi

  1. Academia.edu. Stylistica of Maulid Simtud Durar's Repetition Created by Habib Ali Bin Muhammad Husein Al-Habsyi. Diakses pada 19 Agustus 2026, dari https://www.academia.edu/41309564/Stylistica_of_Maulid_Simtud_Durars_Repetition_Created_by_Habib_Ali_Bin_Muhammad_Husein_Al_Habsyi
  2. Center of Middle Eastern Studies (CMES), Universitas Sebelas Maret. An Analysis of the Meaning of the Shi'r Salawat Simt al-Durar by Habib Ali ibn Muhammad al-Habshi. Diakses pada 19 Agustus 2026, dari https://journal.uns.ac.id/index.php/cmes/article/view/3388
  3. NU Online. Mengenal Kitab Maulid Simthud Durar: Penyusun, Keutamaan, dan Cara Bacanya. Diakses pada 19 Agustus 2026, dari https://jabar.nu.or.id/ubudiyah/mengenal-kitab-maulid-simthud-durar-penyusun-keutamaan-dan-cara-bacanya-qAkxc

(kpl/cel)

Rekomendasi

Trending