FILM INDONESIA

[REVIEW] 'AWAL & AKHIR', Perjalanan Band Pop Rock Bernama Arah yang Terpatah-Patah

Jum'at, 05 Februari 2021 08:30

film AWAL & AKHIR © Visinema Pictures

Kapanlagi.com - Tak banyak production house di Indonesia melakukan apa yang dilakukan oleh Visinema Pictures saat ini. Mereka mencari sebuah intellectual property lalu mengembangkannya sedemikian rupa. Tidak berhenti hanya di satu adaptasi yang sukses tidak sukses di tangga box office lalu mencari sumber lainnya.

Tercatat bagaimana mereka memulai FILOSOFI KOPI yang awalnya berupa cerpen karya Dewi 'Dee' Lestari. Tidak hanya menjadi film, tapi juga serial hingga gerai minuman lekat dengan kaum urban. Sekarang lewat buku kumpulan quote Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini karya Marchella FP, Angga Dwimas Sasongko serta timnya yang berbasis di selatan Jakarta seperti menemukan taman bermain baru.

Usai versi film NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI meraih 2,2 juta penonton selama masa peredaran awal tahun lalu, dilanjutkan dengan STORY OF KALE: WHEN SOMEONE'S IN LOVE yang merupakan spin off dengan tokoh utama Kale (yang sukses bikin penonton jatuh hati tapi disaat bersamaan juga mengembel-embelinya dengan predikat f*ck boy), masih dari buku Marchella itu mereka merilis limited series bertajuk AWAL & AKHIR sebagai pembuka tahun 2021.

1. Awal Mula Perjalanan Band Arah

Serial besutan Sabrina Rochelle Kalangie ini menyorot Arah, nama sebuah band yang digawangi Arga (diperankan Roy Sungkono), Samo (diperankan Tanta Ginting), Carissa (diperankan Azizah Hanum) dan Freddy (diperankan Gilbert Pohan).

Bila dalam NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI Arah telah digambarkan sebagai band sukses dan digilai anak muda, termasuk karakter Awan (diperankan Rachel Amanda), serial sebanyak lima episode ini merupakan mula mula dari perjalanan karir band yang mengusung genre pop-rock tersebut. Perlu dicatat, meski Arah memang nama band yang digawangi Roy, Tanta, Hanum dan Gilbert di dunia nyata, kisah dalam serial ini sepenuhnya fiksi.

2. Pakai Tropes Standar Drama Musik

Kalau boleh jujur, AWAL & AKHIR tidak menawarkan sesuatu yang baru. Sebagai drama musik, ia masih memakai trope-trope dari sajian jenis ini di mana para tokohnya: 1) Membentuk band, 2) Mendapati adanya konflik internal maupun eksternal, lalu 3) Mengikuti kompetisi musik yang menyatukan mereka.

Uniknya, serial ini menyiasati dengan menyajikan konflik berbeda dalam tiap episodenya. Di mana setiap awal durasi sebelum intro, selalu diberi hook supaya penonton terus mengikuti. Trik ini lumayan berhasil, terlebih jika dimaksudkan agar mereka tetap bertahan. Sekaligus membiasakan yang kadung nyaman mantengin televisi dalam mencoba serial lokal di platform streaming.

3. Konflik Hanya di Permukaan

Namun banyaknya konflik yang menumpuk, ditambah dengan durasi per episode rata-rata 12 menit, tidak ada yang benar-benar dikulik lebih dalam alias hanya di permukaan saja. Maka ketika akhirnya sampai pada episode pamungkas, emosi yang coba dibangun sejak awal mau tak mau jadi terpatah-patah.

Beruntung kehadiran lagu-lagu gubahan Andre Harihandoyo disesuaikan dengan mood cerita. Sedikit banyak mampu memberi sumbangsih untuk sampaikan emosi yang dimau.

Terlepas dari hal itu, bila mengikuti sepak terjang Visinema, AWAL & AKHIR termasuk tontonan paling ringan yang pernah mereka produksi ditilik dari segi cerita. Untuk menyaksikan semua episode pun bisa dikonsumsi hanya dalam sekali duduk karena jika ditotal kurang lebih hanya satu jam.


REKOMENDASI
TRENDING