Tinggal di Pesantren, Ayah Marshanda Diobati Pakai Degan Hijau

Selasa, 24 Januari 2017 18:50 Penulis: Risang Sudrajad
Tinggal di Pesantren, Ayah Marshanda Diobati Pakai Degan Hijau Marshanda © KapanLagi.com®/Agus Apriyanto

Kapanlagi.com - Publik sempat dibuat terkejut saat mengetahui ayah Marshanda, Irwan Yusuf (50), ditemukan mengemis di jalan Bangka, Jakarta Selatan. Sepuluh bulan berlalu, Irwan menenangkan diri di Pondok Pesantren Bahrul Mahgfiroh Kota Malang. Pondok asuhan KH Lukman al Karim atau Gus Lukman itu menerapkan pengobatan dengan menggunakan kelapa muda atau degan.

"Pengobatannya dengan menggunakan kelapa muda atau degan yang diberikan doa-doa. (Ayah Marshanda) Ya juga," kata Muhammad Ubay Cikdik Tiro, pendamping Irwan Yusuf di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Jalan Joyo Agung Nomor 2, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Selasa (24).

Pondok Pesantren Bahrul Mahgfiroh selama ini memang melayani rehabilitasi sosial dan korban narkotika. Irwan sendiri termasuk kategori pasien rehabilitasi sosial yang menjalani perawatan sejak Maret 2016.

Pondok pesantren tempat ayah Marshanda tinggal © Kapanlagi.com®/Darmadi SasongkoPondok pesantren tempat ayah Marshanda tinggal © Kapanlagi.com®/Darmadi Sasongko



Penanganan para pasien, kata Ubay, menggunakan dua metode yakni pengobatan berbasis komunitas dan spiritual yang dikembangkan secara khusus. Cara yang digunakan dengan detoknasi menggunakan kelapa muda.

"Proses detoknasi yang dilakukan degan ijo. Prosesnya alami dengan degan hijau yang dibacakan doa," katanya.

Ubay berpendapat, pecandu narkoba jika mendapat pengobatan kimiawi akan muncul ketergantungan baru yakni pada obat tersebut. Tetapi metode tersebut mampu memutus metode ketergantungan penggunanya.

"Sehari pasien narkoba diberi tiga kali dengan ijo. Tetapi saat ditemukan sakaw diberi juga," terangnya.

Ayah Marshanda diobati dengan metode pengobatan degan hijau © Kapanlagi.com®/Darmadi SasongkoAyah Marshanda diobati dengan metode pengobatan degan hijau © Kapanlagi.com®/Darmadi Sasongko



Di sisi lain, Pondok Pesantren Bahrul Mahgfiroh sendiri menjadi salah satu dari tujuh pesantren di Indonesia yang menjadi institusi penerima wajib lapor (IPWL) para pecandu narkotika. Penunjukan tersebut dilakukan oleh Kementerian Sosial (Kemensos), karena selama ini dikenal sebagai salah satu pesantren yang mengembangkan pengobatan korban narkoba berbasis pesantren.

Sejak 1995, Bahrul Mahgfiroh sudah mulai menerima pasien pecandu narkoba. Sudah ratusan pasien berhasil dipulihkan kondisinya seperti semula dengan metode tersebut. Setiap tahun merehabilitasi antara 50 sampai 100 orang. Proses penyembuhan pasien membutuhkan waktu sekitar 6 bulan.

(kpl/dar/abl)

Reporter:

Darmadi Sasongko


REKOMENDASI
TRENDING