Asalkan Tak Munafik, Mongol Baru Setuju KPI Larang Pria Melambai

Sabtu, 27 Februari 2016 15:45 Penulis: Ahmat Effendi
Asalkan Tak Munafik, Mongol Baru Setuju KPI Larang Pria Melambai Mongol ©KapanLagi.com
Kapanlagi.com - Keputusan KPI untuk melarang penampilan para pria melambai di televisi menimbulkan pro dan kontra. Bagi komedian Mongol, keputusan itu bakal menghambat seniman dalam berkreasi. Meski demikian ia bakal mendukung keputusan KPI jika organisasi tersebut tidak bersikap munafik.

"Gue setuju. Oke lah kalau boleh dilarang, tapi yang teriak jangan munafik. Kalau belajar hukum agama Kristen dan Islam, munafik itu lebih berbahaya daripada yang kontra sekali pun. Karena dia di depan bilang A di belakang malah nusuk. Kalau keputusan KPI dan KPAI gitu, gue dukung. Tapi duduk sama-sama dulu yuk, mereka harus research acara anak-anak juga," tutur Mongol di CGV Blitz Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat malam (26/02).

Mongol berharap sebelumnya ada wacana dan pembicaraan terlebih dahulu antara KPI dan para seniman. Saat ini ia beranggapan banyak tayangan yang tak mendidik. KPI sebagai organisasi untuk mengatur penyiaran pun ia minta untuk menyelesaikan tayangan anak-anak terlebih dahulu.

Mongol berharap KPI tak bersikap munafik. ©KapanLagi.com/Budy SantosoMongol berharap KPI tak bersikap munafik. ©KapanLagi.com/Budy Santoso

"Contoh Dora, masa anak umur 10 tahun malah pergi bukannya tidur siang. Ketemu harimau bukannya kabur malah ditanya 'apa kamu melihat benda ini?'. Terus juga lagu anak-anak dong dibenerin, menanam jagung masa dicangkul? Harusnya tuh ditancepin karena kalau dicangkul justru bibitnya nggak berkembang," katanya.

Mongol sendiri baru-baru ini berperan sebagai sosok pria ngondek dengan kostum Wonder Woman di film COMIC 8: KASINO KINGS PART 2. Ia berpandangan banyak hal yang perlu dibenahi dalam industri pertelevisian, dan itu harusnya bisa bertahap.

"Belum lagi Shinchan gimana tuh, yang sering munculin kemaluannya di depan teman-teman dan guru. Harusnya diurusin dari situ. Baru runutin dari ke sepuluh. Jangan tiba-tiba perbaikin yang sepuluh, sementara yang ke satu, dua, tiga masih berantakan," tandasnya.

(kpl/abs/sjw)

Reporter:

Adi Abbas Nugroho


REKOMENDASI
TRENDING