KOREA

Curhatan Pilu di Buku Harian Goo Hara Semasa Hidup Terungkap: Nggak Apa-Apa, Nggak Sakit

Jum'at, 24 Juli 2020 11:11 Penulis: Renisya Satya Putri

Goo Hara © HIGH CUT

Kapanlagi.com - Meski sudah hampir setahun sejak Goo Hara meninggal dunia, duka yang ditinggalkan masih sangat dirasakan oleh orang-orang yang dicintainya. Kakak dan ayah Goo Hara saat ini sedang berjuang di jalur hukum untuk mencegah ibu mereka mendapatkan warisan eks personel Kara ini dan berupaya agar anak-anak lain tidak mengalami hal yang sama, terluka oleh seorang ibu yang meninggalkan anak-anaknya.

Kematian dan konflik keluarga Goo Hara ini dikupas secara mendalam dalam program Spotlight yang tayang di JTBC. Segmen ini juga mengungkapkan beberapa lembar halaman buku harian Goo Hara yang berisi curhatan memilukan.

Catatan di buku harian ini sedikit banyak menguak penderitaan ada dirasakan Hara di tahun-tahun terakhir hidupnya. Beberapa catatan bahkan ditulis saat dia masih duduk di bangku sekolah.

1. Goo Hara

Dilansir dari Koreaboo, beberapa catatan harian Goo Hara tampak sangat positif, seperti ketika dia naksir seseorang dan bagaimana dia merencanakan masa depan yang lebih cerah dengan tabungan yang selalu disisihkannya selama berkarier. Goo Hara juga meninggalkan pesan untuk mencintai diri sendiri.

"18 Oktober 2019

Tanggal 18 Kok bisa aku suka sama ... tanggal 18.
Ayo beranikan diri hari ini dan semangat!

Tahun 19

Tahun 21 Bangunan - Hankook Ilbo
Aku sudah menabung!

Semuanya mulai membaik mulai bulan November
Karena aku sangat mencintai diriku sendiri.
Aku nggak punya trailer.

Tapi aku sangat mencintai diriku sendiri.
Hara!"

2. Doa di Kala Duka

Namun, beberapa catatan yang jelas menunjukkan bahwa Hara sedang terluka. Saat menghadapi kesulitan dalam hidup, Goo Hara kerap berdoa dan mencurahkan perasaannya pada Tuhan melalui buku harian.

"Hara.
Nggak apa-apa.
Nggak sakit.
Nggak apa-apa.

Hara. Nggak apa-apa.
Nggak sakit.
(masalah) Ini juga akan berlalu.
Tuhan, maafkan aku.
Bapa Tuhan Yesus.
Tuhan yang Bijaksana.
Tolong jaga saya yang mengecewakan ini untuk terakhir kalinya.
Ayah.

Dengan kasihMu,
terima kasih telah menghibur saya.
Terima kasih.
Dengan kasihMu,
terima kasih telah memberi saya kedamaian,
Bapa."

3. Rindu Sosok Ibu

Hara juga menulis tentang bagaimana dia memandang dirinya sendiri. Dia merasa bahwa dia adalah orang yang "sensitif" dan itu menjadi penyebab ketidakbahagiaannya sendiri. Goo Hara tahu ada ruang kosong dalam hidupnya karena tidak memiliki ibu, tetapi dia berusaha untuk lebih fokus menjadi bahagia di masa depan.

"Apa yang kamu katakan. Apa yang kamu pikirkan. Itu akan menjadi kenyataan dan dilakukan. Aku harus melindungi diri sendiri terlebih dahulu dan mengenal diri sendiri dengan sangat baik. Nggak, aku paham betul kalau aku lebih sensitif daripada orang lain, dan aku sangat memahami diriku sampai-sampai aku ngeri sendiri. Yuk berhenti menyia-nyiakan energi dan mulai menjaga diri sendiri untuk selalu berpikir bahagia dan positif.

Aku kangen ibu. Aku kangen dan ingin merasakan ibu. Aku selalu memendamnya, menyembunyikannya, dan menyimpannya dalam hati. Aku lebih putus asa daripada siapa pun dan aku ingin bisa merasakan sesuatu.

Aku lebih dari siapa pun. Sakit... nggak, aku bisa terluka. Aku sangat pantas untuk terluka."

4. Nggak Apa-Apa

Dari semua catatan yang ada, "nggak apa-apa" adalah ungkapan yang paling sering ditulis oleh Goo Hara. JTBC lantas meminta seorang profesor psikologi di sebuah universitas untuk menganalisis catatan dalam buku harian Goo Hara. Profesor Kim Tae Kyung menyatakan bahwa Goo Hara terus-menerus menggunakan ungkapan "nggak apa-apa" seolah-olah dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua memang baik-baik saja.

"Nggak apa-apa. Nggak apa-apa.
Nggak apa-apa. Hara.
Nggak apa-apa. Nggak apa-apa.
Nggak apa-apa. Nggak apa-apa."

5. Timbul Ketakutan

Di samping itu, catatan yang paling menonjol bagi Profesor Kim adalah ketika Goo Hara membahas tentang pantaskah dia untuk dicintai. Profesor Kim merasa bahwa Goo Hara berusaha untuk meyakinkan dirinya untuk berpikir positif tetapi tidak berhasil dan mulai menjadi takut.

"Apakah keberadaanku mengganggu?
Siapa aku? Apa yang harus kulakukan? Aku bertanya-tanya siapa aku sebenarnya. Apakah aku pantas untuk dicintai? Apakah aku harus mencintai?"

Profesor Kim menyatakan bahwa ungkapan semacam ini sering digunakan oleh individu yang tidak pernah dicintai dengan sepenuh hati. Mereka harus senantiasa berusaha untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang seseorang dan cinta itu mudah terenggut.

6. Kasih Sayang Orang Tua

Kerinduan Goo Hara akan cinta dan kasih sayang tampaknya berasal dari fakta bahwa ibunya meninggalkannya ketika dia masih kecil, dan ayahnya selalu sibuk menafkahi keluarga mereka. Berdasarkan sebutan yang digunakan di buku hariannya, Profesor Kim yakin bahwa Goo Hara masih sayang kepada ayahnya, tetapi dia menganggap ibunya hanya sebagai sosok yang melahirkannya ke dunia.

"Ayah Goo .... Saya jadi seperti ini karena Song ... yang melahirkan saya. Anda (ibu Goo Hara) dulu mengajak saya jalan-jalan saat selingkuh dari ayah, dan Anda .... Kenapa Anda melahirkan saya jika Anda akan jadi seperti ini?" tulis Goo Hara.

7. Sudah Lelah

Ketika para wartawan bertanya apa artinya ketika Hara menuliskan kerinduannya pada ibu, Profesor Kim yakin bahwa Hara lebih merujuk pada sosok ibu yang menghibur dan penuh kasih daripada ibu yang melahirkannya. Hara hanya ingin dicintai layaknya seorang ibu normal kepada anak mereka.

"Sangat mungkin bahwa itu adalah caranya untuk meminta bantuan, mengatakan 'Saya sedang mengalami kesulitan. Saya ingin seseorang menghibur saya. Saya lelah,'" pungkas Profesor Kim Tae Kyung.


REKOMENDASI
TRENDING