HOME » KOREA
KOREA

Fakta Menjadi Seorang Single Mother di Jepang, Diremehkan dan Disebut Gagal Oleh Masyarakat

Kamis, 10 September 2020 19:08

Credit: Youtube/Asian Boss

Kapanlagi.com - Jumlah kasus perceraian di Indonesia begitu besar, yang mana akhirnya hal itu menyebabkan banyak orang berstatus sebagai single parent. Walhasil, single parent seakan sudah hal yang kita anggap biasa saja di sini.

Namun beda ceritanya dengan Jepang, di mana ternyata status single parent itu masih sangat langka. Bahkan, kehidupan sebagai seorang single parent tidaklah mudah di sana. Pengakuan itu dibuat oleh seseorang wanita bernama Ayano yang kini harus menghidupi anak perempuannya seorang diri.

"Namaku Ayano. Aku adalah seorang single mother dan saat ini bekerja sebagai model sekaligus influencer di Instagram. Single mother masih sangat langka di Jepang. Bagaimanapun ceritanya mereka melahirkan anak, semua single mother mengalami kesulitan seperti direndahkan oleh masyarakat. Dan budaya seperti ini yang membuat hidup jadi sangat sulit untuk anak-anak kita dan juga diri kita para single mothers," ungkap Ayano seperti dilansir dari channel Youtube Asian Boss.

1. Disebut Sebagai Manusia Gagal

Dari ceritanya, Ayano punya penyakit bipolar, yang menyebabkan mood-nya mudah naik turun secara drastis. Nah pada satu masa, Ia kehilangan kendali ketika bertengkar hebat dengan sang suami yang menyebabkan rumah tangga mereka berakhir.

Sejak saat itu, Ayano pun harus menghidupi anak perempuannya seorang diri. Tentunya, Ayano menghadapi banyak sekali cacian dan pandangan miring dari orang-orang sekitar, tak terkecuali orang tuanya.

"Sebagian besar orang berpikir bahwa aku itu manusia yang gagal. Mungkin ini sudah jadi budaya merendahkan di Jepang di mana orang-orang berpikir kamu jadi seperti sekarang karena tidak mendengarkan nasihat orang tuamu. Dan sejujurnya, orang tuaku juga awalnya sangat menentang pernikahanku," kenang Ayano.

2. Urungkan Niat Bunuh Diri

Saking beratnya kehidupan yang dijalaninya, Ayano sempat beberapa kali kepikiran untuk mengakhiri hidupnya. Namun sang buah hati lah yang membuatnya jadi punya semangat untuk melanjutkan hidup lagi.

"Aku tak peduli apa yang akan terjadi padaku, tapi aku punya seseorang yang ingin kulindungi sekarang. Jadi itu alasan kenapa aku tidak pernah bisa mengakhiri hidupku sendiri," ungkap wanita berusia 25 tahun itu.

3. Beranikan Diri Cerita Tentang Kisahnya

Karena penyakit bipolar-nya tersebut, Ayano sendiri sering merasa gugup hingga pingsan jika harus bicara di depan kamera atau orang banyak. Namun pada kesempatan itu, Ia memberanikan diri untuk menceritakan kisah hidupnya sebagai penyemangat bagi yang lain.

"Aku sadar jika ada banyak orang di seluruh dunia yang punya masalah sama denganku, seperti berjuang melawan penyakit atau menghadapi kesulitan menjadi seorang single mother. Jadi aku ingin membagikan masalah-masalahku dan menunjukkan pada dunia bahwa aku sedang melawan balik, jadi aku berharap bisa memberikan keberanian untuk yang lainnya," tutup Ayano.


REKOMENDASI
TRENDING