Didik Nini Thowok Tampil Luwes di 'Ronggeng Midang'

Kapanlagi.com - Penari bertopeng tiba-tiba muncul di tengah pertunjukan 'Ronggeng Midang' yang digelar di Gedung Pusat Kebudayaaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu (5/9) malam.

Ratusan penonton di gedung tersebut dibuat penasaran oleh gerakan luwes. Sosok yang familiar itu akhirnya membuka topengnya, disambut tepuk tangan gemuruh penonton yang hadir. Dialah Didik Nini Thowok, si penari serba bisa.

Pertunjukan 'Ronggeng Midang' tersebut diselenggarakan dalam rangka gelar budaya Sunda di Yogyakarta yang didukung oleh lebih 75 seniman dari Jawa Barat.

Pagelaran tersebut diawali dengan 'Rampak Kendang Mojang Bujang' yang ditampilkan oleh tujuh penari perempuan dan empat orang laki-laki penabuh kendang.

Musik gamelan Sunda yang mengiringi penampilan itu mampu membuat ratusan penonton bersemangat untuk menyaksikan beragam pertunjukan Seni Sunda. Terlebih lagi ketika pertunjukan itu dimeriahkan oleh 'Gotong Singa Anak-Anak'.

Dua ekor singa-singaan ditandu oleh masing-masing empat anak laki-laki dan diiringi tarian khas Sunda yang dimainkan oleh lima anak perempuan.

Setelah 'Gotong Singa Anak-Anak', pertunjukan utama pun dimulai, tiga orang penari ronggeng memasuki panggung.

Karesmen (drama Sunda) 'Ronggeng Midang' pun dimulai oleh ketiga penari ronggeng. Penari ronggeng pertama dikisahkan sebagai penari ronggeng muda yang sedang gelisah karena citra negatif yang melekat pada profesi itu.

Sedangkan penari kedua dan ketiga adalah mantan penari ronggeng yang sudah makan asam garam dalam dunia ronggeng.

Karesmen 'Ronggeng Midang' merupakan ciptaan seorang dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Dr Endang Caturwati, yang juga alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan UGM.

"Tarian ini mengisahkan tentang kegelisahan ronggeng yang selau disorot negatif oleh banyak orang, dan karesmen ini dimaksudkan untuk menghapus citra tersebut," katanya.

Dialog-dialog dalam karesmen 'Ronggeng Midang' tersebut diselingi dengan beberapa tarian Sunda, di antaranya Tari Badaya Wirahmasari, Tari Tayub, dan Tari Ketuk Tilu Cikeruhan.

Suasana gedung pertunjukan malam itu semakin hidup ketika penonton disuguhi banyolan dan tingkah lucu penari asal Yogyakarta, Didik Nini Thowok.

"Keluwesan gerak badan Didik Nini Thowok tidak kalah dengan penari ronggeng sungguhan," kata salah seorang penonton, Adi.

Gelar Seni Budaya Sunda di Yogyakarta yang digelar pada 5-7 September ini, juga akan dimeriahkan oleh pertunjukan Rengkak Parahiangan yang akan ditampilkan di Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat pada 7 September.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

(*/bun)

Rekomendasi
Trending