'PANGGUNG KEPEKAAN SENIMAN' Digelar untuk Aceh
Kapanlagi.com - Bencana tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara pada 26 Desember 2004 beserta akibatnya telah menggugah simpati dari berbagai kalangan. Gelombang simpati yang tak kunjung habis, salah satunya dikirimkan oleh komunitas seniman yang berada di Jakarta.
Setelah berbagai acara berbau seni digelar untuk menaikan dana bantuan untuk Aceh, kini satu lagi persembahan untuk diberikan oleh seniman yang berkumpul di Galeri Nasional di Jakarta, Sabtu malam.
Acara yang bertajuk Panggung Kepekaan Seniman tersebut digelar sebagai sebuah rangkaian acara dari kegiatan Dwi Pekan Kepekaan Seniman yang dicetuskan oleh Koordinatoriat Bangkit Aceh.
Koordinatoriat Bangkit Aceh (KBA) merupakan gabungan dari beberapa organisasi dan lembaga yang peduli terhadap pemulihan kesenian di Aceh pascagempa dan tsunami seperti Konsorsium Wartawan Kebudayaan Nusantara, Bengkel Teater Rendra, Seniman Aceh Se-Jabotabek dan beberapa lembaga lainnya.
Advertisement
"Kami melakukan ini semua sebagai usaha sebagai seniman yang mencoba membuat jaringan yang ingin membantu pemulihan berkesenian di Aceh, Nias dan daerah yang terkena bencana," kata Sekretaris KBA, Doddi Ahmad Fauzi yang malam itu mengenakan kaos berwarna kuning gading dan berpeci.
Lebih lanjut ia mengatakan sejak Senin (17/1) hingga Minggu (23/1) di Aceh telah dimulai kembali kegiatan kesenian.
"Beberapa rekan seniman dari berbagai daerah telah menyatakan siap membantu seniman di Aceh yang tersisa dari bencana tersebut. Setelah hari Minggu (23/1) esok, seniman di Aceh akan memulai berkeliling ke tempat penampungan pengungsi, selain menghibur juga menggugah semangat hidup masyarakat korban," ujar Doddi yang mengaku tenaganya cukup terkuras karena sejak Sabtu (8/1) ia bersama rekan-rekannya dari KBA setiap hari menyelenggarakan panggung kesenian di pelataran Galeri Nasional.
Beberapa seniman dan budayawan tampak hadir dan mengisi acara Panggung Kepekaan Senimanyang diselenggarakan malam itu, tepat 27 hari setelah musibah di Aceh dan Sumut yang memilukan tersebut terjadi, antara lain, Khairul Umam, Tri Utami, Endah Widyastuti, Jockey S Prayogo, Sawung Jabo, Franky Sahilatua dan WS Rendra.
Selain itu, hadir pula pengamat politik Eep Syaifullah Fatah, pembawa acara televisi, Sandrina Malakiano dan pengacara Ruhut Sitompul.
Dimulai sekira pukul 19.30 WIB, acara tersebut diawali oleh penampilan Federasi Teater Indonesia yang menampilkan seni instalasi, "happening art" dan pembacaan puisi oleh tujuh orang di panggung. Selanjutnya kelompok Puri Gita Nusantara, malam itu menampilkan gending Bali kontemporer.
Setelah beberapa penampil, Trie Utami, salah satu penyanyi terbaik Indonesia tampil di hadapan puluhan penonton yang memadati Galeri di depan stasiun Gambir tersebut.
Membawakan sebuah lagu yang terinspirasi dari puisi milik Made Wirawan, di akhir lagu, penyanyi asal Bandung itu mendapat apresiasi yang tinggi dari penikmat dan komunitas seni ibukota.
Pada pukul 22.00 WIB, seakan seluruh penonton dihipnotis, semua pandangan dan perhatian mengarah ke panggung.
'Si Burung Merak', WS Rendra, membawakan tiga puisi yang masing-masing berjudul SAJAK UNTUK DE' NA, SAGU AMBON dan IBU.
Meski sempat beberapa kali terbatuk, pesonanya tampak masih memukau puluhan penonton yang terdiam saat Rendra membacakan bait demi bait puisinya.
Malam semakin larut, hingga pukul 10.45 WIB acara masih berlangsung. Gelombang simpati masih terus mengalir bagi korban tsunami di Aceh dan Sumut yang jumlahnya telah mencapai ratusan ribu orang tersebut.
Namun, keterkejutan saat melihat bencana di Aceh dan Sumut, janganlah hanya dengan menggunakan kacamata statistik dalam melihat jumlah korban yang mencapai ratusan ribu orang, perlu juga melihat dari makna sebuah tragedi kemanusiaan.
"Semua bencana yang terjadi di Indonesia, entah itu di Maumere, Maluku, Nabire dan tempat lain, sama nilainya. Memang dari angka statistik, di Aceh sangat menakjubkan dibandingkan dengan daerah bencana lain, tapi dari sisi tragedi kemanusiaan, di mana terenggut nyawa manusia, semuanya sama. Oleh karenanya kita harus adil dan proporsional dalam menyikapi semua bencana di negeri ini," ujar Eep.
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
(*/erl)
Advertisement
-
Teen - Fashion Kasual Celana Jeans Ala Anak Skena: Pilihan Straight sampai Baggy yang Wajib Dicoba
