Idris Sardi Sang MaestroSaat Idris Sardi Merasa Dekat Dengan Kematian

Kamis, 22 Mei 2014 14:31 Penulis: Darmadi Sasongko
Saat Idris Sardi Merasa Dekat Dengan Kematian Idris Sardi © KapanLagi.com
Kapanlagi.com -

Oleh: Darmadi Sasongko

"Saya ini kan pendosa. Saya tidak mau kalau nanti mati dalam kondisi belum berbuat apa-apa untuk negeri ini," kata maestro biola Indonesia Idris Sardi sebagaimana ditulis dalam buku Idris Sardi, Perjalanan Maestro Biola Indonesia karya Fadli Zon.

Idris Sardi merasakan kematiannya sudah begitu dekat. Saat itu, tahun 1998 usianya sudah 60 tahun, kesehatannya pun mulai menurun dan beberapa penyakit mulai menghampirinya, termasuk kanker usus.

Di sisi lain, Idris Sardi merasa belum banyak berbuat banyak untuk bangsanya. Karena itu, di sisa hidupnya ingin melakukan sesuatu yang memberikan manfaat bagi banyak orang.

Saat itu pilihannya jatuh untuk mengurus anak jalanan. Dia ingin mendampingi anak-anak jalanan Jakarta yang jumlahnya ribuan anak. Idris bermimpi tinggal di sebuah rumah singgah sambil mendidik apapun itu, termasuk mengajarkan pada mereka tentang musik.

Idris Sardi © KapanLagi.comIdris Sardi © KapanLagi.com

Satu per satu koleganya didatangi untuk mewujudkan mimpinya. Idris mendatangi Dr. Haryono Suyono, yang saat itu menjabat Menteri Koordinasi Kesehatan Rakyat (Menko Kesra) untuk menyampaikan keinginannya. Ide-idenya pun disambut baik, dan secara teknis akan dibantu rumah singgah.

Namun mimpinya tentang rumah singgah tidak juga terwujud. Idris semakin galau dengan sisa hidupnya, dia tidak bisa diam dan harus segera melakukan sesuatu.

Jalan sedikit terbuka saat bertemu Harry Roesli, musisi yang juga aktivis pendamping anak jalanan. Komunikasi mereka mulai terjalin dengan baik, namun saat janjian untuk bertemu di sebuah tempat di Jakarta, justru Harry Roesli dikabarkan jatuh dan koma hingga meninggal dunia.

Saat itu, Idris tetap mengejar agar bisa bertemu Roesli, sambil membawa rombongan pengajian untuk membaca surat Yasin untuk almarhum. Roesli pun mendahului perjalanannya sekaligus memupuskan keinginannya tinggal bersama anak-anak jalanan di rumah singgah.

Impian membangun rumah singgah dianggap gagal, namun tidak menyurutkan niatnya mengabdikan diri untuk negeri. Dalam kondisi kesehatan yang kurang sempurna, akhirnya Idris memutuskan masuk pesantren.

Idris menjadi santri Pondok Pesantren di Wilayah Tangerang, Banten pimpinan Ubaydillah Khalid (Pak Ubay), seorang alumnus Pondok Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Seperti santri lain, dia tidur di ubin beralaskan karpet dengan jatah makan seperti para santri lain. Hanya hari Sabtu mendapatkan menu daging.

Idris Sardi © KapanLagi.comIdris Sardi © KapanLagi.com

Sambil menyembuhkan penyakitnya, Idris meminta izin untuk mengajarkan musik kepada para santri. Permohonan itupun dikabulkan dengan senang hati oleh Kyai Ubay.

"Ketika masuk pesantren, saya dalam kondisi sudah sakit. Saya tidak mau mati sia-sia. Saya berusaha memberi sesuatu pada mereka. Karena niat mengurus anak jalanan gagal, maka saya alihkan dengan mengajar teori musik pada anak-anak di pesantren," kata Idris.

Setiap selesai salat Ashar dan Isyak, Idris mengajar 13 anak dari seleksi 250 orang santri. Mereka dikenalkan cara menulis dan membaca not balok, serta berlatih menyanyi lagu-lagu shalawat nabi. Mereka kemudian diajak rekaman di Studio Gema Nada Pertiwi (GNP) hingga memiliki sebuah album.

Sekitar dua bulan Idris Sardi menjadi seorang santri, hidup tirakat di pondok yang menyembuhkan batin dan penyakit kanker ususnya. Kegelisahannya patut ditiru oleh kita yang masih diberi kelapangan kesempatan.

(kpl/dar)


REKOMENDASI
TRENDING