in partnership with Indosiar
 
DANGDUT

[Kisah] Rara LIDA Berjuang Bahagiakan Ibu Yang Sempat Jadi Pemulung & Banting Tulang

Senin, 10 Desember 2018 16:15 Penulis: Tantri Dwi Rahmawati

Kapanlagi

Kapanlagi.com - Nama Rara alias Tyara Ramadhani barangkali sudah nggak asing bagi para penonton setia ajang dangdut di Indosiar. Yup, setelah lalui perjalanan panjang di Liga Dangdut (LIDA) 2018, Rara berhasil sabet posisi juara 2. Langkahnya makin mulus, kini ia berkompetisi di Dangdut Academy Asia (DAA) 4.

Siapa yang sangka, di luar segala pencapaian suksesnya hari ini ternyata Rara miliki hidup yang nggak mudah. Hal itu ia ceritakan saat ditemui di studio 5 Indosiar, Jakarta Barat, Senin (20/11) lalu.

1. Berangkat Audisi Saat Ayah Sakit

Gadis asal Prabumulih, Sumatera Selatan ini ceritakan awal perjalanannya ikuti audisi LIDA. "Waktu itu mau ikut Dangdut Academy 4, tapi usia Rara belum cukup. Jadi nunggu tahun depan. Saat itu dikasih tahu teman, ada audisi LIDA, tapi Rara sempat putus harapan karena ayah Rara sedang dalam kondisi sakit, tapi ibu Rara bilang ‘ya sudah nggak apa-apa ikut saja, siapa tahu rejeki'," tukasnya sambil menambahkan bahwa sang ayah pun akhirnya mengijinkan.

Berbekal restu kedua orang tuanya, Rara berangkat audisi. Beberapa waktu kemudian Rara dinyatakan lolos ke Jakarta. Namun di saat yang sama juga, ayahnya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Momen itu tentu rasanya nggak karuan, bahkan Rara mengaku nggak ada senang-senangnya sama sekali.

"Nggak ada senang-senangnya sama sekali (dengan kabar lolos audisi LIDA), jadi ditelepon 4 Desember (2017) bahwa Rara lolos audisi LIDA perwakilan Sumatera Selatan, dan sorenya Rara bilang ke ayah, 'ayah, kakak masuk LIDA', ayah Rara saat itu cuma bisa ngangguk dan nangis, dan subuhnya ayah Rara sudah nggak ada," jelas putri alm. Abdul Rohim ini.

2. Sang Ibu Banting Tulang

Ayah Rara meninggal karena sakit stroke. Ia menderita penyakit itu sudah sejak 14 tahun belakangan. Dengan begitu, sang ibunda mau nggak mau harus jadi tulang punggung keluarga.

"Iya, ibu Rara jualan kue, ikut catering, pemulung juga, jadi sebelum jualan kue, ibu Rara sempat jadi pemulung dari Rara usia 3 tahun sampai Rara masuk SD, Pas Rara masuk sekolah, ibu Rara mulai jualan kue, jadi pekerja di tempat catering, masak dan cuci piring," jelas Rara.

Tentu perjuangan sang ibu yang susah payah menghidupi keluarga itu bikin Rara pengen ikut membantu. Ia kerap berniat turut berjualan kue dan memulung, tapi sang ibu selalu melarangnya. "Ibu bilang ‘nggak usah-nggak usah, kamu sekolah saja , kamu jadi anak yang pintar, yang rajin biar bisa mengubah hidup keluarga, jangan seperti ibu’, ibu sering berkata seperti itu, ibu orangnya nggak mau dibantu," ujarnya.

3. Miliki Bakat Seni Yang Besar

Nggak salah sih memang jika sang ibu meminta Rara untuk fokus belajar, pasalnya Rara nggak cuma pintar, tapi juga berbakat dalam berkesenian. Yup, sejak usia 5 tahun Rara sudah tunjukkan bakat bernyanyi. Mulai dari menyanyi di acara 17-an, nyanyi dangdut, hingga nyanyi lagu daerah, semuanya ia geluti.

Yup, diakui Rara darah seni mengalir dalam dirinya berkat kedua orang tua. "Darah seni dari ayah dan ibu, karena ayah dahulu juga pernah nge-band, dan ibu ikut dalam grup marawis," tuturnya singkat.

Menyadari anaknya bertalenta besar, ibunda Rara terus berikan support saat Rara tergabung dalam sanggar dan kegiatan seni sekolah. "Ibu support Rara banget untuk ikut sanggar dan sekolah, pernah ibu harus hujan-hujanan, malem-malem anter Rara jalan ke sanggar karena nggak ada ojek, jaraknya juga jauh," tukas gadis 16 tahun ini.

Yup, sanggar menjadi tempat Rara asah berbagai bakatnya. "Rara itu ikut sanggar, namanya Sengo Sakapangunyian, jadi sanggar itu sanggar yang ingin engenalkan budaya Prabumulih, Sumatera Selatan, dari alat musik, nyanyian, tarian, hingga teater," jelasnya.

4. Nasib Berubah

Dengan segala ketertarikannya pada seni daerah itu, tentu hidup Rara nggak dekat dengan dunia dangdut. Diakuinya, saat masuk LIDA ia baru belajar dangdut. Kini dangdut jadi bagian hidup Rara yang sulit dipisahkan, apalagi semenjak jadi juara LIDA nasibnya berubah.

"Yang dahulunya direndahkan, sekarang sudah bisa mengangkat derajat keluarga. Rara mengucapkan terima kasih buat Indosiar yang sudah memberikan Rara kesempatan, belajar dangdut lebih giat lagi, lebih banyak lagi," papar Rara.

Segala pencapaian Rara hari ini nggak lepas dari keinginannya untuk ringankan beban sang ibu. "Semenjak Rara masuk sini (kompetisi dangdut Indosiar), Rara sudah nggak mau lihat lagi ibu jualan, lihat ibu mulung, karena sudah cukup pengorbanan beliau yang jadi bapak, juga jadi ibu untuk nafkahi keluarga," tuturnya sambil menambahkan bahwa kesuksesannya dipersembahkan pada ibu dan alm. ayah.

5. Dicubit Penggemar

Nggak cuma nasib yang berubah, cara orang perlakukan Rara pun berubah. Ya, ketenaran bikin ia mudah dikenali, sampai-sampai ia harus pakai masker dan kacamata saat sedang di Prabumulih, kampungnya. Itu semua dilakukan demi keselamatan. "Takut sih nggak, tapi disuruh karena khawatir akan hal-hal yang tidak diinginkan. Lebih waspada saja,' ujarnya.

Nggak berlebihan memang, pasalnya saat ia pulang kampung, ia kerap dicubit oleh penggemarnya. "Misal pulang kampung, dicubit sama ibu-ibu sampai dagingnya mengelupas, Ya ampun, mungkin saking gemasnya kali ya. Mungkin itu bentuk support, bentuk senang mereka," jelas Rara.

6. Tetap Cinta Dangdut

Namun pengalaman kurang mengenakkan itu nggak lantas bikin Rara kapok jadi penyanyi dangdut, pasalnya ia merasa punya kewajiban lestarikan dangdut. "Dangdut itu kan sudah seperti music asli Indonesia, jadi sebagai anak Indonesia, Rara punya tanggung jawab untuk melestarikan dan membuat dangdut agar bisa tambah dikenal dan digemari," tukas gadis kelahiran 6 Desember 2001 ini.

Kecintaannya pada dangdut nggak lantas bikin ia ogah pelajari musik lain. Ia mengaku ingin jadi penyanyi yang kuasai semua genre. Meski begitu, ia maklum jika para remaja jaman now antipati dengan dangdut. "Kalau Rara sih nggak malu (geluti dangdut), malah Rara bangga, tapi masing-masing kan punya selera. Karena penikmat musik itu kan banyak, dan jenis musiknya beragam. Jadi maklum saja," pungkasnya.

 


REKOMENDASI
TRENDING