INTERNASIONAL

[REVIEW] 'MAGGIE'

Cinta Ayah Kepada Putri Zombienya Yang Berujung Tragis
Selasa, 21 Juli 2015 23:30  | 

Arnold Schwarzenegger


Cinta Ayah Kepada Putri Zombienya Yang Berujung Tragis
Maggie/maggiethefilm.com




KapanLagi.com - Oleh: Tita Chamberlin

Film yang bertemakan sci-fi zombie memang sedang laris di pasaran. Makin modern, zombie atau yang kerap disebut the undead ini tak lagi keluar dari kubur melainkan terjadi karena ulah manusia. Virus atau senjata biologis yang tak sengaja bocor, banyak menjadi latar belakang tersebarnya virus zombie, seperti dalam film MAGGIE.

Dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger dan Abigail Breslin, virus zombie yang melumpuhkan hampir sebagian Amerika Serikat ini bernama necro-ambulatory disease. Diduga virus ini bisa menyebar melalui tanaman, sehingga kalian akan melihat banyak sekali ladang-ladang pertanian yang dibakar dengan harapan virus ini akan musnah.

Wade Vogel, yang diperankan oleh Arnold Schwarzenegger, punya seorang putri cantik, Maggie. Saat menyusuri kota yang sudah sepi akan populasi manusia, ia tak sengaja bertemu dengan seorang zombie yang menyerangnya. Malang, tangannya tergigit dan menyebabkan ia terjangkit virus mengerikan ini.

Ia pun kemudian bertemu dengan pasukan yang membawanya ke rumah sakit terdekat. Ia kemudian dibawa pulang oleh sang ayah yang sudah mencarinya selama berminggu-minggu di kota. Sebenarnya, dokter tak mengizinkan Maggie untuk pulang sebab ia harus segera masuk dalam barak isolasi karena kondisinya akan membahayakan ketika dirinya berubah menjadi zombie.

Tapi Wade memohon dan berjanji akan mengembalikan putrinya ketika saatnya tiba. Rupanya, ia punya janji kepada mendiang istrinya untuk terus menjaga Maggie, yang diperankan oleh Abigail Breslin. Ia memenuhi janjinya, meski harus menyaksikan perubahan fisik putrinya yang mengerikan. Kulit dan daging tubuhnya terus membusuk, hingga mengeluarkan belatung.

MAGGIE, Potret kasih sang ayah kepada putrinya yang tak lekang oleh kondisi/maggiethefilm.comMAGGIE, Potret kasih sang ayah kepada putrinya yang tak lekang oleh kondisi/maggiethefilm.com

Jangan harapkan MAGGIE penuh dengan aksi-aksi menegangkan seperti yang ada dalam film I'M LEGEND atau WORLD WAR Z bahkan serial THE WALKING DEAD. Film arahan Henry Hobson ini lebih menampilkan estetika dalam pengambilan gambarnya. Namun begitu, emosi penonton juga ikut dimainkan meski terkesan sangat lambat dan membosankan.

Sejak awal film dimulai, penonton agak dibikin kesulitan untuk memahami ceritanya. Bagi mereka yang kurang suka dengan gaya film indie, MAGGIE adalah tontonan yang kurang recommended. Mungkin saja mereka bakal meninggalkan bioskop sebelum film ini berakhir.

Namun bagi pecinta sinematografi dan fotografi, MAGGIE adalah surga. Pengambilan gambarnya yang artistik dengan tone warna yang sangat menggoda sangat memanjakan mata. Efek suara dan scoring film ini pun terasa pas, tidak terlalu dibuat-buat atau lebay. MAGGIE mengalir smooth dari awal hingga akhir tragisnya.

Film yang juga ikut nongol di gelaran Sundance Film Festival ini lebih mengetengahkan cerita cinta seorang ayah kepada anaknya yang tak lekang oleh waktu, dan kondisi. Arnold pun berubah menjadi sosok yang kalem dan penuh kasih, berbeda dari peran-peran yang biasa ia mainkan dalam TERMINATOR atau THE EXPENDABLES.

Dari sisi cerita, MAGGIE punya alur yang sederhana. Diakhiri dengan tragis dan membuat kita trenyuh sekaligus sebal, MAGGIE agaknya lebih cocok bagi penikmat film semi indie. Penasaran? Simak film yang extraordinary ini di bioskop kesayanganmu, ya.

Jangan Lewatkan

Potret Intim Kehidupan Rockstar Grunge
Perspektif Tiran Baru Yang Gahar dan Beringas
Pencarian Harmoni Untuk Kembalikan Reputasi
Tuhan, Musa dan Kontroversi
Kucing Lucu, Gadis Lugu, dan Cinta yang Malu-Malu

(kpl/tch)