INTERNASIONAL

[REVIEW] 'THE FOREST'

Mencari yang Hilang di Hutan Favorit Bunuh Diri
Senin, 01 Februari 2016 16:52  | 

Natalie Dormer


Mencari yang Hilang di Hutan Favorit Bunuh Diri
THE FOREST/Šimpawards.com




KapanLagi.com - Oleh: Abbas Aditya

Beberapa tahun silam Hollywood terkena demam remake horor Jepang. Tanpa perlu menyebut judul, rata-rata film tersebut mengalami penurunan kualitas hingga tak seseram versi asli yang mencetak kesuksesan.

Awal tahun 2016 kita disuguhi horor bertajuk THE FOREST yang saya pikir remake-horor-Jepang-entah-mana-lagi mengingat hutan favorit bunuh diri Aokigahara dipakai sebagai setting utama. Tapi saya salah. THE FOREST merupakan film dengan naskah asli yang diproduseri David S Goyer (penulis skrip trilogi BATMAN versi Christopher Nolan).

Fitur debut Jason Zada itu berkisah tentang Sara Price (Natalie Dormer) yang nekat memasuki hutan terlarang Aokigahara guna mencari saudara kembarnya yang hilang. Banyak orang meminta Sara kembali karena mereka yakin Jess Price telah meninggal. Namun ikatan batin sebagai kembar identik membuatnya abai. Ia yakin Jess masih hidup.

Film dituturkan begitu cepat dengan teknik maju mundur pada awalnya. Jason Zada yang berkecimpung di agensi periklanan tampaknya ingin mengajak penonton cepat-cepat merasakan kengerian hutan yang terletak di barat daya kaki Gunung Fuji itu. Sayangnya ketika berada di dalam hutan, film yang melakukan pengambilan gambar di Gunung Tara, Serbia, terasa lambat.

Meski ditulis penulis skrip trilogi Batman, THE FOREST jadi horor flat yang kurang bisa takuti penonton/impawards.comMeski ditulis penulis skrip trilogi Batman, THE FOREST jadi horor flat yang kurang bisa takuti penonton/impawards.com

Secara perlahan THE FOREST menjadi sajian yang medioker. Sebagai horor ia gagal mengerjakan tugas menakut-menakuti lantaran ketegangan yang telah dibangun sempurna di awal runtuh tak bersisa.

Meski begitu ada momen menarik ketika Nick Antosca, Ben Ketai dan Sarah Cornwell selaku penulis skenario membuat penonton menebak mana realita dan mana halusinasi saat Sara diteror arwah penunggu hutan. Karena menurut legenda, Aokigahara menjadi manipulatif saat orang yang ada di sana dilanda kesedihan.

Pada akhirnya THE FOREST memang kurang memuaskan pecinta horor. Ia bak materi tersisa dari tren remake horor Jepang. Anehnya, saya malah tertarik dengan ide mengunjungi hutan itu untuk sekadar membuktikan eksistensi keseraman yang ada. Apakah kamu juga berminat? 

(kpl/abs/tch)