FILM INDONESIA

Produser 'SILAM' Kecewa Film Dapat Rating 17+, Begini Tanggapan Lembaga Sensor

Rabu, 05 Desember 2018 13:20 Penulis: Sora Soraya

Jose Poernomo © KapanLagi.com®/Bayu Herdianto

Kapanlagi.com - MD Pictures dan PicHouse Film bersiap merilis produksi film terbarunya yang bertajuk SILAM. Drama horor besutan Jose Poernomo ini memasang aktor cilik pendatang baru bernama Zidane Khalid sebagai lakon utama.

Manoj Punjabi selaku produser mempersiapkan film untuk konsumsi 13 tahun ke atas. Namun ia kecewa karena Lembaga Sensor Film atau LSF meloloskan karya barunya ini dengan rating 17 tahun ke atas dengan nomor 1615/DCP/NAS/17/12.2023/2018.

1. Tanggapan Pihak LSF

Saat coba dikonfirmasi kepada Ahmad Yani selaku Ketua Lembaga Sensor Film, ia mengatakan bila SILAM masih dalam tahap peninjauan ulang. Namun ia tidak bisa menjanjikan apakah film yang juga dibintangi Surya Saputra dan Wulan Guritno ini bisa masuk ke rating 13 tahun ke atas.

"Kemarin pihak yang punya film sudah dialog dengan kami. Kemudian kami akan mendalami lagi. Kan masih ada peninjauan, tunggu aja keputusannya nanti. Saya tidak mengatakan bisa berubah. Tapi kami masih mendalami lagi," kata Ahmad Yani saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (5/12).

2. Kriteria Horor Rating 13+ dan 17+

Saat gala premier SILAM di CGV Grand Indonesia, kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, pada Selasa (4/12) malam kemarin, Manoj Punjabi membahas kurang jelasnya LSF dalam memberi kriteria film horor yang tepat untuk konsumsi 13 tahun ke atas dan 17 tahun ke atas. Ahmad Yani pun memberikan penjelasan terkait hal tersebut.

"Pada dasarnya film yang masuk usia 13 tahun ke atas itu film yang mengandung edukasi. Jadi itu (penilaian) satu persatu film, nggak bisa disamaratakan. Film horor ada yang mengedukasi, ada juga yang hanya muatannya horor," ucapnya.

Ahmad Yani menambahkan, "Horor rating 13 tahun itu agar ada pendampingan, kemudian orangtua bilang ini yang benar itu yang salah. Tapi kalau horor gitu aja, yang hanya menebar ketakutan, ya itu nggak ada edukasinya. Misalnya ada pembunuhan, tapi yang bunuh dihukum itu kan edukasi juga. Tapi kalau hanya cerita pembunuhan, kemudian jadi hantu itu nggak ada edukasinya, karena dari awal sampai akhir hanya menebar horor saja," pungkasnya.

(kpl/abs/sry)

Reporter: Adi Abbas Nugroho


REKOMENDASI
TRENDING