Didik Nini Thowok Pukau Masyarakat Kanada

Kapanlagi.com - Seniman ternama asal Yogyakarta, Didik Nini Thowok, memperlihatkan kebolehannya dalam seni tari di kota Toronto, Kanada.

Ia memukau masyarakat kota tersebut yang datang dalam acara yang diselenggarakan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Toronto maupun ceramah mengenai "Cross Gender Dance" di Fakultas Seni, Universitas York di kota yang sama.

Dalam pagelaran seni dengan tema "Musim Semi/Seni Kanada" yang berlangsung di Paviliun Jawa KJRI Toronto Minggu lalu itu, sekitar 300 penonton hadir dan sebagian besar di antaranya masyarakat Kanada pencinta seni.

Menurut Kasubid Pensosbud KJRI Toronto, Sherly Sylvia Malinton, yang dihubungi ANTARA, Jumat, tiket yang disediakan terjual habis. Terlebih lagi karena penjualan tiket itu bekerjasama dengan kelompok seni "Tribal Cracking Wind" yang mempunyai relasi luas di kalangan pencinta seni di Kanada.

Penampilan Didik tersebut merupakan yang pertama di Kanada. Dalam pagelaran seni di KJRI Toronto, Didik membawakan tari tradisional yaitu Lambangsari, Pangkur, Pancarsari serta tari kreasi kontemporer Dangdut Ayo Prayon.

Kepiawaian Didik dalam membawakan tari-tarian tersebut menjadi semakin menarik perhatian karena diiringi oleh Gamelan Toronto yang merupakan kelompok gamelan di bawah binaan KJRI di kota itu.

Suara indah sinden Sandra Philips, seniwati warga negara Kanada yang sudah lama mendalami seni wayang dan karawitan Indonesia juga memberikan warna indah dari total pagelaran Didik tersebut.

Masyarakat Kanada memang pencinta seni. Begitu juga dengan media massanya. Karenanya, stasiun televisi di kota bisnis tersebut, "City TV" meliput dari dekat penampilan Didik.

Didik tidak hanya menari, sebab dia juga berceramah. Di depan kalangan akademisi dari Fakultas Seni Universitas York, Toronto, Didik memberikan ceramah ilmiah mengenai "Cross Gender Dance".

"Penguasaan materi yang sangat bagus dan kemampuannya berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang juga bagus membuat ceramah tersebut menjadi sangat menarik," kata Sherly menggambarkan besarnya minat yang ditujukan atas kehadiran Didik di Toronto.

Bukan Didik namanya jika dia tidak menari di manapun. Di sela-sela ceramah itu, dia juga menampilkan tari tradisional untuk menggambarkan "Cross Gender Dance" yang dibicarakannya sehingga mereka yang hadir di ceramah itu dapat memahami langsung penampilan tarian wanita yang dibawakan oleh penari laki-laki.

Didik menggarisbawahi bahwa keterlibatan laki-laki dalam tari-tarian tradisional khususnya karena besarnya ketakutan akan dicap sebagai banci.

Itulah sebabnya tarian "cross gender" di Pulau Jawa khususnya sudah hampir punah.

Seni budaya Indonesia bukanlah hal yang asing di Kanada. Kelompok seni yang mendalami seni gamelan, wayang dan tari tradisional Indonesia banyak ditemui di kota-kota besar di negara tersebut seperti Toronto, Montreal, Vancouver, dan ibukota Ottawa.

Di kota Toronto bahkan ada kelompok gamelan profesional "Evergreen Club" pimpinan Andrew Timar, seniman yang mendalami seni gamelan Jawa dan Sunda dan juga membawa satu mata kuliah khusus gamelan di Universitas York.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

(*/rit)

Rekomendasi
Trending