SELEBRITI

Kilas Balik Kak Seto Mulyadi, Pencipta Si Komo dan Sudah 50 Tahun Mengabdi di Dunia Anak-anak

Jum'at, 10 April 2020 18:29 Penulis: Luthfia Miranda Putri

Kak Seto Mulyadi © KapanLagi.com - Muhammad Akrom Sukarya

Kapanlagi.com - Jika membahas dunia anak-anak, tentu hal tersebut tidak terlepas dari sosok Seto Mulyadi. Public figure yang sering dipanggil Kak Seto ini merupakan sosok berjasa dibalik indahnya kehidupan anak-anak Indonesia.

Pria yang berusia 68 tahun ini dikenal sebagai tokoh psikolog anak dan Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak. Selain itu, ia juga dikenal sebagai pencipta karakter Si Komo di awal tahun 80-an. Kontribusinya yang begitu besar untuk anak-anak Indonesia membuatnya karirnya semakin sukses hingga sekarang.

Namun, tahukah kamu kalau dulunya Kak Seto sempat tidak tertarik di dunia pendidikan? Siapa yang mengira kalau tidak diterima di jurusan yang diinginkan malah membawanya sukses di dunia pendidikan. Lebih lengkapnya, simak yuk perjalanan karir Kak Seto dalam ulasan berikut.

 

1. Menjadi Mahasiswa Psikologi

Pada awalnya Kak Seto memutuskan untuk berhijrah ke Jakarta saat tidak diterima jurusan Kedokteran. Tanpa bekal dan keahlian apapun, ia memutuskan untuk hidup serabutan sembari menunggu tes Kedokteran berikutnya. Namun sayangnya ia kembali ditolak oleh jurusan yang ia idamkan.

Hingga akhirnya ia memilih masuk ke jurusan Psikologi Universitas Indonesia atas saran Alm. Pak Kasur. Pak Kasur adalah orang yang dikenal Kak Seto sejak menjadi asisten pemilik Taman Kanak-kanak. Dari sinilah ia mulai belajar mencintai dunia pendidikan.

2. Pengisi Acara Aneka Ria Anak-anak

Dari pekerjaannya sebagai asisten Pak Kasur, Kak Seto mulai menjalani dekade pertamanya di dunia anak-anak. Ia pun bergabung dalam acara TVRI yang bertajuk ANEKA RIA ANAK-ANAK bersama Kak Henny Purwonegoro.

Dalam acara itu, ia dan Henny mulai mendongeng, bernyanyi, hingga bermain sulap untuk anak-anak. Acara tersebut dibawakannya dari tahun 1978 hingga 1981.

3. Punya Saudara Kembar

Banyak yang belum tahu kalau ternyata Kak Seto memiliki saudara kembar. Yup, kembarannya tersebut bernama Kresno Mulyadi. Kak Seto adalah anak yang dilahirkan 5 menit lebih dulu sebelum Kresno.

Dari kehidupan sebagai anak kembar inilah yang menjadi inspirasinya untuk membangun Yayasan Nakula Sadewa. Uniknya yayasan ini identik dengan angka 2 layaknya jumlah anak kembar.

Yayasan ini didirikan pada tanggal 22 bulan Februari 1984. Bulan Februari merupakan bulan kedua serta angka 1984 yang dijumlah hasilnya adalah 22. Mereka pun menandatangani kepemilikan Yayasan ini di depan Notaris pada pukul 22.22.22.

Letaknya sendiri berada di Jalan Patiunus no. 22 Kemayoran Baru, dengan modal Rp 222.222 dan disaksikan oleh 2 pasang anak kembar.

4. Pencipta Si Komo

Sepanjang perjalanan karirnya di dunia pendidikan, Kak Seto sempat terpikirkan untuk membuat suatu karakter yang bisa menyeimbangkan kreatifitas dan imajinasi anak-anak. Saat itu terciptalah karakter Si Komo.

Nama Komo berasal dari seekor hewan asli Indonesia yaitu Komodo. Sejak kemunculannya di berbagai media, Si Komo ini menjadi sahabat dan idola untuk anak-anak Indonesia saat itu. Dari karakter Si Komo inilah Kak Seto semakin dikenal banyak orang.

5. Raih Banyak Penghargaan

Kesuksesan Kak Seto pun diiringi dengan banyaknya penghargaan yang ia terima. Salah satu penghargaan yang diterimanya adalah The Golden Balloon Award, New York: kategori Social Activity dari World Children's Day Foundation & UNICEF. Penghargaan tersebut didapatkannya pada tahun 1989.

Sedangkan penghargaan terakhir yang diterima Kak Seto adalah Men’s Obsession Award. Penghargaan ini diterimanya pada tahun 2006.

6. Terbitkan Buku dan Novel

Kak Seto pun pernah mengatakan kalau menulis adalah salah satu hobinya. Ia pun pernah menerbitkan sebuah buku yang berjudul ANAKKU, Sahabatku, dan Guruku. Buku ini membahas tentang pengalaman Kak Seto dalam memahami serta membesarkan anak-anaknya.

Selain itu ia juga pernah menulis sebuah novel yang berjudul Kakak Batik. Dalam novel tersebut ia menceritakan tentang mimpi-mimpinya sebelum menjadi mahasiswa. Novel ini memiliki makna bahwa hidup adalah bak lembaran batik yang lika-likunya tetap berujung pada keceriaan.

7. Penggagas Home Schooling

Pada tahun 2004, Kak Seto mulai menerapkan sistem pendidikan home schooling untuk putri pertamanya, Minuk. Saat itu sang putri mengalami trauma saat belajar di sebuah sekolah formal.

Hingga akhirnya pada tahun 2007, Kak Seto berhasil mendirikan Home Schooling Kak Seto. Gagasan ini merupakan dekade pertama tercetusnya cara belajar jalur pendidikan non formal dan informal.

Beberapa alumni dari Homeschooling Kak Seto adalah Dhea Seto, Ayushita, Hanggini P. Retto, Nikita Willy, Prilly Latuconsina, Citra Scholastika, dan Ray Prasetya.

8. 50 Tahun Mengabdi di Dunia Anak-anak

Kini Kak Seto menjabat sebagai Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak sejak tahun 1998. Ia mengaku karirnya ini didukung dari pesan sang Guru besar, Alm. Pak Kasur. Pesan tersebut adalah melanjutkan perjuangan beliau di dunia anak-anak dari Sabang hingga Merauke.

Tepat pada 4 April kemarin, Kak Seto merayakan pengabdiannya selama 50 tahun di dunia anak-anak. Ia pun menulikan sebuah motto yang bernadakan, "Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Mencintai dan Melindungi Anak-anak."

Terima kasih atas pengabdiannya, Kak Seto!

 

REKOMENDASI
 
TRENDING