Royal Wedding, Pintu Masuk Menjadi Anggota Keluarga Kerajaan

Jum'at, 01 Juni 2018 17:46 Penulis: Mahardi Eka
Royal Wedding, Pintu Masuk Menjadi Anggota Keluarga Kerajaan Prosesi Lamaran GKR Hayu .Kratonwedding.com

Kapanlagi.com - Royal Wedding Pangeran Harry dan Meghan Markle mendapat sorotan lebih dari royal wedding sebelumnya karena kisah cinta unik kedua mempelai. Harry yang adalah pangeran kerajaan Inggris yang memilih untuk menikahi Meghan yang meski seorang selebriti Amerika Serikat, bukanlah berdarah biru. Dalam sebuah royal wedding, kemungkinan seperti itu selalu ada. Ketika seorang anggota keluarga kerajaan memilih untuk menikahi orang biasa.

Meghan diajak Harry untuk bertemu dengan keluarga kerajaan, khususnya Ratu Elizabeth II untuk mendapat restu. Tidak ada prosesi khusus yang harus dijalani Meghan, hanya saja ia harus menaati peraturan ketat dari kerajaan. Lantas bagaimana dengan di keraton Jawa, Yogyakarta lebih tepatnya? KapanLagi menemui Dosen Sastra Jawa Universitas Indonesia, Prapto Yuwono, S.S. M.Hum serta menghubungi GKR Hayu untuk tahu tentangnya.

"Sebenernya kalo keraton itu sudah mempertimbangkan, menerima siapa orang itu, itu sudah bibit, bebet, bobot udah diitung tuh. Keraton itu yang melaksanakan luar biasa, kalo orang kecil ngga ngerti," ujar Prapto Yuwono.

Dalam pepatah Jawa, bibit berarti menimbang dan menyelidiki tentang latar belakang keluarga calon mempelai. Bebeta berarti menilai kemampuan hartanya. Lalu, bobot memperhatikan kemampuan intelektual dan kualitas dari calon mempelai. "Jadi saya kira tidak mungkin menikahkan dengan lulusan sd. Jadi bibit bebet bobot adalah bagian yang tidak bisa ditinggalkan oleh raja atau keraton. Ada juga perhitungan secara spiritual, dalam primbon bisa dihitung kecocokannya," terang Prapto.

Ketika seseorang masuk menjadi anggota keluarga kerajaan ia bakal mendapat gelar tertentu. Para menantu Sultan HBX misalnya mendapat gelar Kanjeng Pangerah Haryo. Berbeda lagi dengan gelar yang diberikan untuk permaisuri. Gelar tersebut adalah Gusti Kanjeng Ratu seperti istri Sultan Hamengku Buwana X, Gusti Kanjeng Ratu Hemas. 

Seiring dengan berjalannya waktu, praktik perjodohan yang ada di keraton pun tidak terjadi. Sebagai contoh, Sultan HB ke-X yang memberi kebebasan kepada putrinya untuk memilih calon suami. "Raja ini kan raja modern, mereka ternyata pacaran dulu, ketemu di amerika mereka kuliah sama-sama. Tapi kan mereka dipantau dan diawasi terus, udah diliat bibit bebet bobotnya, jadi mereka boleh pacaran terus," tutur Prapto. Meski begitu, tentunya bibit bebet bobot masih menjad pertimbangan utama dalam memilih calon pasangan yang bakal masuk ke dalam keluarga kerajaan.



Royal wedding tak bisa dipungkiri menjadi pintu masuk bagi seseorang untuk bisa masuk menjadi keluarga kerajaan. Mereka yang sebelumnya berstatus non bangsawan pun bisa menjadi anggota keluarga kerajaan ketika akhirnya menikah dengan salah satu anggota kerajaan. Dalam royal wedding keraton Yogyakarta, seseorang yang akan masuk menjadi anggota keluarga bakal mendapat gelar ketika melamar salah satu anggota keluarga kerajaan.

"Saat lamaran, ayah mempelai laki-laki membuat surat dengan bahasa Jawa yang intinya ingin melamar putri Sultan. Pihak keluarga laki-laki datang diantar oleh salah satu sesepuh di kalangan Keraton Yogyakarta. Tidak bawa seserahan, karena seorang putri raja tidak bisa dinilai dengan materi. Sayanya pun harus ngumpet di kamar," terang GKR Hayu, putri keempat SUltan Hamengkubuwono X melalui email.

Diungkapkannya, jawaban atas lamaran nantinya pun bakal berbentuk surat yang diantar utusan Sultan selang beberapa hari dari acara lamaran itu sendiri. "Kalau di Keraton Yogyakarta, saya dan Mas Notonegoro mendapatkan Asma Paring Dalem atau nama pemberian Sultan. Suratnya berbunyi nama lama dicabut dan diberi nama baru," ceritanya.

"Kalau kami, undangan akan bertuliskan Gusti Kanjeng Ratu Hayu & Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro, dengan urutan itu. Secara pangkat di dalam Keraton, saya lebih tinggi dari suami. Jadi tidak ada KPH Notonegoro beserta istri," tambah GKR Hayu.

Pemberian nama dan gelar di keraton Yogyakarta. (Foto: Kratonwedding.com)Pemberian nama dan gelar di keraton Yogyakarta. (Foto: Kratonwedding.com)



Pemberian nama atau gelar ini berbeda dengan di Inggris yang memberikan gelar sepasang, yakni pihak perempuan mengikuti yang laki-laki. Pangeran Harry dan Meghan mendapat gelar Duke and Duchess of Sussex sementara Pangeran William dan Kate Middleton mendapat gelar Duke and Duchess of Cambridge.

Pemberian nama ini pun mutlak diberikan Sang Ratu dan kemudian ditetapkan dalam hukum tertulis. Nantinya gelar tersebut akan diperkenalkan kepada publik. Usut punya usut, ternyata gelar Duke of Cambridge yang diterima William tak ada sangkut-pautnya dengan warisan tanah, istana, ataupun kekuasaan. Itu hanyalah gelar yang diberikan secara turun-temurun untuk catatan sejarah British Royal Family.

Wah, pastinya membanggakan ya punya gelar bangsawan seperti di atas. Tertarik untuk mendapatkan gelar tersebut? Pastinya KLovers perlu menikah terlebih dahulu dengan anggota keluarga keraton atau kerajaan Inggris dulu nih.



(kpl/dka)


REKOMENDASI
TRENDING