Hukum Merayakan Maulid Nabi
hukum merayakan maulid nabi (h)
I'll research this topic thoroughly before writing the article. Let me start with multiple searches to gather international sources and expert quotations.Now let me find relevant internal links from kapanlagi.com for the article.I have excellent internal links. Let me search for a few more direct expert quotations to strengthen the article.Let me do one final search to find additional authoritative expert perspectives on this topic.# Hukum Merayakan Maulid Nabi Menurut Ulama dan Empat Mazhab, Simak Penjelasan Lengkapnya
Setiap memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam di berbagai penjuru dunia menyambut peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Namun, pertanyaan mengenai hukum merayakan Maulid Nabi kerap kembali mengemuka dan memantik diskusi hangat di tengah masyarakat.
Sebagian kalangan memandang peringatan ini sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah, sementara sebagian lain menilainya sebagai perkara yang tidak memiliki dasar. Perbedaan pandangan inilah yang membuat topik ini penting dipahami secara utuh dan berimbang.
Advertisement
Secara garis besar, mayoritas ulama membolehkannya, sedangkan sebagian ulama lain menggolongkannya sebagai bid'ah. Karena itu, memahami hukum merayakan Maulid Nabi menuntut kita menelaah dalil, sejarah, sekaligus pandangan para ahli.
Merujuk kemenag.go.id, Maulid Nabi merupakan peristiwa peringatan yang jatuh pada 12 Rabiulawal Hijriah sebagai wujud cinta kasih umat Muslim kepada Nabi. Sebagai bekal, ada baiknya menelusuri sejarah dan amalan yang baik dilakukan saat Maulid Nabi terlebih dahulu.
1. Pengertian dan Makna Maulid Nabi
Secara bahasa, kata maulid berasal dari bahasa Arab yang berarti hari lahir atau kelahiran. Istilah ini kemudian melekat sebagai penyebutan bagi peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang secara tradisi diperingati pada tanggal 12 Rabiul Awal.
Peringatan Maulid pada dasarnya adalah ungkapan rasa syukur dan cinta atas kelahiran sosok yang diyakini umat Islam sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam. Bentuknya beragam, mulai dari pembacaan riwayat hidup Nabi, lantunan shalawat, pengajian, hingga kegiatan sosial dan berbagi kepada sesama.
Menariknya, terdapat catatan sejarah unik seputar tanggal ini. Mengacu pada Britannica, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW secara tradisi justru diperingati pada 12 Rabiul Awal yang juga diyakini sebagai hari wafat beliau, dan perayaan ini baru dilakukan secara luas oleh umat Islam pada abad ke-13. Untuk menambah wawasan, Anda bisa menyimak berbagai ucapan Maulid Nabi yang penuh makna.
Baca juga: Kumpulan kata mutiara Maulid Nabi untuk memperingati kelahiran Rasulullah
2. Hukum Merayakan Maulid Nabi dalam Pandangan Ulama
Perlu dipahami sejak awal bahwa tidak ada satu pun nash, baik ayat Al-Qur'an maupun hadis, yang secara tegas memerintahkan atau melarang peringatan hari kelahiran Nabi. Karena itulah persoalan ini masuk dalam ranah ijtihadiyah, sehingga wajar bila para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan hukum merayakan Maulid Nabi.
Kelompok mayoritas berpendirian bahwa peringatan ini boleh dilakukan dan tergolong bid'ah hasanah, yaitu perkara baru yang mengandung nilai kebaikan dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an maupun sunnah. Sebagaimana disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI), memperingati Maulid Nabi hukumnya boleh dan tidak termasuk bid'ah dhalalah, sebab tidak ditemukan dalil yang mengharamkannya, bahkan terdapat sejumlah dalil yang membolehkannya. Dalam kerangka ini pula, Muhammad Tahir-ul-Qadri, ulama terkemuka asal Pakistan, dikutip dari Goodreads menyatakan, "Tujuan mendasar Maulid Nabi adalah meraih cinta dan kedekatan dengan Nabi."
Di sisi lain, sebagian ulama menegaskan bahwa perayaan ini tidak memiliki dasar dari generasi awal Islam sehingga digolongkan sebagai bid'ah. Pandangan ini antara lain diusung oleh sejumlah ulama seperti Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Portal fatwa IslamQA menegaskan, "Nabi sendiri tidak melakukannya dan tidak pula memerintahkan siapa pun untuk melakukannya." Meski begitu, sebelum tergesa menyimpulkan, penting untuk melihat bahwa perbedaan ini tetap berada dalam bingkai perbedaan ijtihad para ulama.
Yang menarik, batas antara kedua kubu tidak selalu setajam yang dibayangkan. Dalam kitab Iqtida' ash-Shirath al-Mustaqim, Ibnu Taimiyah yang menggolongkan Maulid sebagai bid'ah justru mengakui bahwa orang yang merayakannya karena niat baik dan kecintaan kepada Rasulullah dapat memperoleh pahala yang besar. Dengan demikian, banyak ulama menyimpulkan bahwa hukum merayakan Maulid Nabi sangat bergantung pada bentuk dan isi acaranya, selama dijauhkan dari hal-hal yang melanggar syariat. Tidak mengherankan bila pemerintah pun menegaskan tidak melarang perayaan Maulid Nabi selama tetap tertib.
Baca juga: Kata-kata Maulid Nabi terbaik untuk media sosial dan ucapan
3. Sejarah dan Asal Usul Peringatan Maulid Nabi
Untuk memahami hukumnya secara utuh, kita perlu menelusuri kapan tradisi ini pertama kali muncul. Berikut rangkaian fase penting dalam asal usul peringatan Maulid Nabi di dunia Islam.
- Ketiadaan perayaan di masa awal Islam. Pada masa Rasulullah, para sahabat, tabiin, hingga para imam mazhab, tidak ditemukan catatan sejarah adanya perayaan khusus atas hari kelahiran Nabi. Fakta inilah yang kerap dijadikan dasar oleh kelompok yang menilai Maulid sebagai bid'ah.
- Kemunculan di era Dinasti Fatimiyah. Sebagaimana dilaporkan SoundVision, peringatan Maulid Nabi dirintis oleh Dinasti Fatimiyah yang berkuasa di Mesir pada 969 hingga 1171 Masehi. Dinasti bermazhab Syiah Ismailiyah ini bahkan menggelar beberapa peringatan kelahiran sekaligus.
- Catatan sejarah tertua. Rujukan paling awal mengenai perayaan ini terekam dalam catatan sejarawan Mesir al-Maqrizi yang mengutip Ibn al-Ma'mun, sehingga peringatan tahunan Maulid diperkirakan mulai digelar pada abad ke-12.
- Perayaan Maulid pertama kaum Sunni. Setelah era Fatimiyah, peringatan Maulid yang megah dan populer dikaitkan dengan Raja Al-Muzaffar Abu Sa'id Kukburi di Irbil pada awal abad ke-13.
- Penyebaran bersama tarekat sufi. Tradisi ini kemudian menyebar luas seiring berkembangnya tasawuf pada masa Dinasti Ayyubiyah dan semakin menonjol pada masa Kekaisaran Ottoman.
- Menjadi tradisi global. Berdasarkan data EBSCO Research, pada abad ke-21 Maulid Nabi telah diakui sebagai hari libur resmi di lebih dari 45 negara di dunia.
Terkait latar belakang Fatimiyah tersebut, Yasir Qadhi, akademisi Islam, dikutip dari MuslimMatters menjelaskan, "Seluruh konsep perayaan hari kelahiran ini berasal dari tradisi Syiah yang bertujuan mengagungkan kedudukan para imam." Namun demikian, para sejarawan mencatat bahwa Maulid Nabi kemudian diterima luas oleh kalangan Sunni dan kehilangan corak awalnya.
Baca juga: 40 kata-kata Maulid Nabi penuh makna di hari kelahiran Rasulullah
4. Pandangan Empat Mazhab dan Ormas Islam tentang Maulid Nabi
Setelah menelaah sejarahnya, penting mengetahui bagaimana para fuqaha dan lembaga keislaman menyikapi peringatan ini. Berikut rangkuman pandangannya.
- Mayoritas ulama empat mazhab. Mengutip nu.or.id, mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali menyatakan bahwa hukum memperingati Maulid Nabi adalah boleh, selama pelaksanaannya diisi dengan amalan-amalan kebaikan.
- Imam as-Suyuti. Ulama besar bermazhab Syafi'i ini menulis risalah khusus berjudul Husn al-Maqsid fi Amal al-Mawlid yang menilai peringatan Maulid sebagai bid'ah hasanah karena berisi zikir, shalawat, dan sedekah.
- Nahdlatul Ulama (NU). NU membolehkan bahkan menganjurkan peringatan Maulid dengan metode istinbath qauli, yakni mengambil pandangan ulama terdahulu, dan mengikuti tradisi seperti pembacaan kitab Barzanji.
- Muhammadiyah. Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah membolehkan peringatan Maulid melalui metode ijtihad istishlahi yang menitikberatkan pada kemaslahatan, sebagaimana tercantum dalam buku Tanya Jawab Agama. Bentuk yang dipilih umumnya berupa pengajian atau majelis taklim.
- Kelompok yang menolak. Sebagian ulama, terutama dari kalangan salafi, menilai peringatan ini sebagai bid'ah karena tidak dicontohkan generasi awal, sekaligus menyoroti kemungkaran yang kerap menyertai sebagian perayaan.
Dari rangkaian pandangan di atas terlihat bahwa titik perbedaan bukan pada kecintaan kepada Nabi, melainkan pada cara mengekspresikannya. Baca juga: Kumpulan caption Maulid Nabi penuh makna dan kata mutiara kalimat untuk Maulid Nabi.
5. Adab dan Cara Merayakan Maulid Nabi yang Sesuai Syariat
Karena hukumnya berpulang pada bentuk acaranya, kunci utama peringatan Maulid terletak pada adab dan isinya. Lembaga fatwa Mesir, Dar al-Ifta, dikutip dari laman Dar al-Ifta menyatakan, "Merayakan berbagai peristiwa keagamaan adalah perkara yang dianjurkan, kecuali jika melibatkan sesuatu yang dilarang oleh syariat Islam."
Agar perayaan Maulid membawa keberkahan dan tidak melenceng dari tuntunan, berikut sejumlah amalan dan adab yang dianjurkan.
- Memperbanyak shalawat. Majelis peringatan sebaiknya dihidupkan dengan bacaan sholawat Nabi sebagai wujud cinta kepada Rasulullah.
- Berzikir dan meningkatkan ibadah. Momen ini menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, termasuk dengan menambah ibadah sunnah.
- Membaca sejarah dan meneladani akhlak Nabi. Kisah perjalanan hidup Rasulullah dibacakan agar keteladanannya benar-benar diamalkan.
- Bersedekah kepada yang membutuhkan. Berbagi kepada fakir miskin merupakan salah satu bentuk syukur; pahami dahulu keutamaan dan arti sedekah sebagai amalan istimewa.
- Mempererat silaturahmi. Peringatan menjadi ajang menyatukan dan menguatkan ukhuwah islamiah.
- Menghindari kemungkaran. Perayaan harus dijauhkan dari percampuran laki-laki dan perempuan yang menimbulkan fitnah, hura-hura, maupun pemborosan.
Selain amalan inti tersebut, penyelenggara biasanya juga menyiapkan susunan acara yang tertib, misalnya dengan menyiapkan contoh teks MC Maulid di masjid agar jalannya kegiatan lebih khidmat. Lantunan sholawat pun kini kian beragam, mulai dari bacaan sholawat lengkap Arab dan Latin hingga karya populer seperti sholawat Al Hijratu.
Pada akhirnya, inti dari peringatan Maulid Nabi adalah menghidupkan kecintaan dan keteladanan kepada Rasulullah, bukan sekadar seremoni tahunan. Selama diisi dengan kebaikan dan dijauhkan dari kemungkaran, momentum ini dapat menjadi sarana memperkuat iman sekaligus mempererat persatuan umat. Baca juga: kata mutiara sedekah, tata cara sholat dhuha, dan caption untuk Maulid Nabi.
6. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Merayakan Maulid Nabi
Apakah merayakan Maulid Nabi hukumnya bid'ah?
Mayoritas ulama menggolongkannya sebagai bid'ah hasanah yang boleh dilakukan karena berisi kebaikan seperti shalawat, zikir, dan sedekah. Namun sebagian ulama menilainya bid'ah yang perlu ditinggalkan karena tidak dicontohkan generasi awal Islam. Perbedaan ini merupakan bagian dari ijtihad, sehingga umat dianjurkan saling menghormati.
Kapan peringatan Maulid Nabi diperingati?
Peringatan Maulid Nabi umumnya dilaksanakan setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah. Tanggal ini secara tradisi diyakini sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, meski sebagian ulama berpendapat tanggal pastinya masih diperdebatkan.
Apa saja amalan yang bisa dilakukan saat Maulid Nabi?
Amalan yang dianjurkan antara lain memperbanyak shalawat, berzikir, membaca sejarah Nabi, bersedekah kepada fakir miskin, serta mempererat silaturahmi. Yang terpenting, perayaan diisi dengan kebaikan dan dijauhkan dari hal-hal yang bertentangan dengan syariat.
Daftar Referensi
- Britannica. Mawlid | Meaning, Importance, Celebration, & Facts. Diakses pada 21 Agustus 2026, dari https://www.britannica.com/topic/mawlid
- Egypt's Dar Al-Ifta. Celebrating the Various Religious Occasions. Diakses pada 21 Agustus 2026, dari https://www.dar-alifta.org/en/fatwa/details/4824/celebrating-the-various-religious-occasions
- EBSCO Research. Mawlid - Religion and Philosophy. Diakses pada 21 Agustus 2026, dari https://www.ebsco.com/research-starters/religion-and-philosophy/mawlid
- MuslimMatters. The Birth-Date of the Prophet and the History of the Mawlid. Diakses pada 21 Agustus 2026, dari https://muslimmatters.org/2009/03/13/the-birth-date-of-the-prophet-and-the-history-of-the-mawlid-part-ii-of-iii/
- SoundVision. Mawlid Celebrations: Historical and Contemporary. Diakses pada 21 Agustus 2026, dari https://www.soundvision.com/article/mawlid-celebrations-historical-and-contemporary
(kpl/cel)
Advertisement
D Academy 8
-
Anak Selebritis Indonesia Potret Soimah Gendong Arjuna, Anak Putri Isnari Bikin Gemas di Dangdut Academy 8