Puasa Arafah untuk yang Sedang Haji, Begini Hukum dan Hikmahnya Menurut Ulama
puasa arafah untuk yang sedang haji (h)
Kapanlagi.com - Puasa Arafah merupakan ibadah sunnah pada tanggal 9 Dzulhijjah yang memiliki keutamaan luar biasa bagi umat Islam. Pertanyaan seputar puasa Arafah untuk yang sedang haji kerap muncul setiap kali musim haji tiba, mengingat pada hari yang sama jutaan jamaah sedang melaksanakan wukuf di Padang Arafah.
Secara garis besar, mayoritas ulama bersepakat bahwa puasa pada Hari Arafah sangat dianjurkan bagi Muslim yang tidak sedang menunaikan haji. Bagi jamaah haji yang sedang berada di Padang Arafah, hukum berpuasa justru berbeda dan menjadi topik pembahasan penting dalam fikih Islam.
Memahami hukum puasa Arafah untuk yang sedang haji akan membantu jamaah memaksimalkan ibadah sesuai tuntunan syariat. Rasulullah SAW sendiri tercatat tidak berpuasa ketika melaksanakan wukuf di Arafah pada Haji Wada.
Advertisement
Dilansir dari IslamQA, puasa pada Hari Arafah hukumnya makruh bagi jamaah haji dan bukan merupakan sunnah bagi mereka.
1. Pengertian Puasa Arafah dan Kaitannya dengan Ibadah Haji
Hari Arafah atau Yawm Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah, merupakan hari kedua rangkaian ibadah haji dan diikuti oleh Hari Raya Idul Adha. Pada fajar hari ini, jutaan jamaah haji bergerak dari Mina menuju sebuah bukit dan dataran yang dikenal sebagai Gunung Arafat dan Padang Arafah di Arab Saudi. Puasa Arafah sendiri merujuk pada puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal tersebut bagi umat Islam yang tidak berada di Tanah Suci.
Dari lokasi Padang Arafah ini pula Nabi Muhammad SAW menyampaikan salah satu khutbah terakhir beliau di tahun terakhir kehidupannya. Sebagian ulama menyatakan bahwa ayat Al-Quran tentang penyempurnaan agama Islam diturunkan pada hari ini. Momen bersejarah ini menjadikan Hari Arafah sebagai salah satu hari paling agung dalam kalender Islam, baik bagi jamaah haji maupun umat Islam di seluruh dunia.

Kaitan antara puasa Arafah dan ibadah haji terletak pada waktu pelaksanaannya yang bersamaan. Nabi Muhammad SAW secara tegas menyatakan, "Haji adalah Arafah" (Sunan an-Nasai). Tanpa berdiri di Arafah, ibadah haji seorang jamaah dianggap tidak sah. Oleh karena itu, wukuf menjadi ritual terpenting yang menuntut konsentrasi dan kekuatan fisik penuh dari setiap jamaah haji.
Mengacu pada Human Appeal, bagi Muslim yang tidak sedang menunaikan haji, berpuasa pada Hari Arafah termasuk salah satu ibadah sunnah paling dianjurkan sepanjang tahun. Ulama dari keempat mazhab Sunni menganggap puasa Arafah sebagai sunnah muakkadah bagi yang tidak berhaji. Inilah mengapa memahami perbedaan hukum antara jamaah haji dan non-haji dalam konteks puasa Arafah menjadi sangat penting.
2. Hukum Puasa Arafah untuk yang Sedang Haji Menurut Para Ulama
Pembahasan tentang hukum puasa Arafah bagi jamaah haji telah berlangsung sejak masa-masa awal Islam. Para ulama dari berbagai mazhab memiliki pandangan yang beragam, meskipun mayoritas sepakat bahwa meninggalkan puasa lebih utama bagi jamaah haji. Imam An-Nawawi, sebagaimana dikutip dari Wikipedia, menyatakan, "Dianjurkan berpuasa pada Hari Arafah bagi yang tidak berada di Arafah. Adapun bagi jamaah haji yang hadir di Arafah, dianjurkan baginya untuk tidak berpuasa."
Berikut lima pendapat ulama tentang hukum puasa Arafah bagi jamaah haji:
- Dianjurkan tidak berpuasa — Ini adalah pendapat mazhab Maliki, pendapat utama (mu'tamad) mazhab Syafi'i, dan mazhab Hanbali. Pandangan ini dianut oleh kebanyakan ulama dan menjadi pendapat paling kuat.
- Dianjurkan berpuasa jika tidak melemahkan — Mazhab Hanafi memperbolehkan puasa selama tidak membuat jamaah lemah untuk beribadah. Jika puasa menyebabkan kelelahan sehingga mengurangi kualitas doa dan dzikir, maka hukumnya menjadi makruh.
- Makruh berpuasa — Sebagian ulama Hanafiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah secara tegas menyatakan bahwa berpuasa pada Hari Arafah bagi jamaah haji hukumnya makruh.
- Dianjurkan berpuasa — Mazhab Zahiriyah berdasarkan riwayat dari Aisyah dan Abdullah bin Zubair, serta Ishaq, berpendapat bahwa puasa tetap dianjurkan bagi jamaah haji.
- Wajib tidak berpuasa — Yahya bin Said Al-Anshari berpendapat bahwa jamaah haji wajib meninggalkan puasa pada hari tersebut.
Merujuk Human Appeal, para ulama memang berbeda pendapat mengenai apakah jamaah haji boleh berpuasa pada Hari Arafah. Posisi mayoritas termasuk mazhab Maliki, Syafi'i, dan Hanbali adalah bahwa jamaah haji dianjurkan untuk tidak berpuasa agar tetap kuat berdoa sepanjang sore hari saat wukuf.
Baca juga: Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah sebagai Amalan Penghapus Dosa
3. Dalil Larangan Puasa Arafah bagi Jamaah Haji
Dalil utama yang menjadi landasan tidak dianjurkannya puasa Arafah bagi jamaah haji berasal dari perbuatan Rasulullah SAW sendiri. Bagi jamaah haji, tidak disunnahkan berpuasa pada Hari Arafah karena Nabi Muhammad SAW tidak berpuasa pada hari tersebut saat melaksanakan ibadah haji. Dalam Sahih al-Bukhari diriwayatkan dari Maimunah bahwa orang-orang tidak yakin apakah Nabi berpuasa pada Hari Arafah, maka Maimunah mengirimkan susu kepada beliau saat wukuf, dan beliau meminumnya di hadapan para jamaah.
Selain riwayat Maimunah, terdapat pula hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan secara lebih tegas. Ketika Ikrimah bertanya kepada Abu Hurairah tentang puasa pada Hari Arafah di Padang Arafah, Abu Hurairah menjawab bahwa Rasulullah SAW melarang puasa Hari Arafah di Arafah (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibn Majah). Larangan ini menegaskan bahwa konteks lokasi sangat berpengaruh terhadap hukum puasa pada hari tersebut.
Riwayat lain yang menguatkan datang dari Ibnu Umar. Ketika ditanya tentang puasa Arafah di bukit Arafah, Ibnu Umar menjelaskan bahwa beliau pernah menunaikan haji bersama Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar, Umar, dan Utsman, namun tidak seorang pun dari mereka yang berpuasa. Menariknya, Ibnu Umar menambahkan bahwa ia sendiri tidak berpuasa, tidak menyuruh orang lain berpuasa, dan tidak pula melarangnya.
Dalam kitab Badai al-Fawaid, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan mengapa puasa Arafah menghapus dosa dua tahun sementara puasa Asyura hanya satu tahun. Beliau menyatakan, "Hari Arafah berada di salah satu bulan haram, didahului dan diikuti oleh bulan haram, berbeda dengan Asyura. Puasa Arafah merupakan kekhususan syariat kita, sehingga dilipatgandakan dengan keberkahan Nabi Muhammad SAW." Riwayat-riwayat ini secara keseluruhan memberikan gambaran bahwa puasa Arafah untuk yang sedang haji memang bukan merupakan amalan yang dicontohkan Rasulullah.
4. Hikmah Tidak Dianjurkannya Puasa Arafah Saat Berhaji
Melarang jamaah haji berpuasa pada hari-hari tersebut merupakan bentuk rahmat yang besar bagi mereka, karena puasa akan memberikan beban fisik yang berlebihan kepada orang yang sedang melaksanakan haji. Rangkaian ibadah haji pada tanggal 9 Dzulhijjah sangat padat dan melelahkan secara fisik. Jamaah harus menempuh perjalanan dari Mina ke Padang Arafah, melaksanakan wukuf dari tengah hari hingga matahari terbenam, lalu melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah pada malam harinya.
Imam An-Nawawi dalam kitab al-Majmu' menulis bahwa puasa dapat melemahkan jamaah haji dan mengurangi kemampuannya untuk melaksanakan ritual-ritual penting pada hari itu. Wukuf di Arafah bukan sekadar berdiam diri, melainkan momen paling krusial untuk berdoa, berdzikir, beristighfar, dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Jamaah membutuhkan stamina penuh agar bisa memanfaatkan setiap detik yang tersedia dengan optimal.
Hikmah lainnya berkaitan dengan status Hari Arafah bagi jamaah haji. Rasulullah SAW bersabda, "Hari Arafah, Hari Nahar, dan Hari-hari Tasyrik adalah hari raya bagi kita, umat Islam. Hari-hari itu adalah hari makan dan minum." Sebagaimana umat Islam tidak berpuasa pada Hari Raya Idul Adha, jamaah haji pun tidak dianjurkan berpuasa pada Hari Arafah yang merupakan hari raya bagi mereka.
Syariat Islam senantiasa memperhatikan kondisi dan kemampuan umatnya. Bagi jamaah haji, wukuf di Arafah itu sendiri sudah merupakan ibadah puncak yang pahalanya sangat agung. Para ulama menegaskan bahwa jamaah haji sebaiknya tidak berpuasa pada hari ini, karena tindakan berdiri di Arafah itu sendiri sudah menjadi ibadah paling utama bagi mereka. Dengan tidak berpuasa, jamaah dapat mencurahkan seluruh energi untuk berdoa dan berdzikir di hari yang penuh keberkahan ini.
5. Keutamaan Puasa Arafah bagi Muslim yang Tidak Sedang Berhaji
Meskipun puasa Arafah tidak dianjurkan bagi jamaah haji, ibadah ini justru sangat ditekankan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan haji. Sebagaimana dikutip dari Islamic Relief UK, puasa pada Hari Arafah sangat dianjurkan bagi semua Muslim yang tidak sedang melaksanakan haji. Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa berpuasa pada hari ini menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, menjadikannya salah satu ibadah sunnah paling bermakna di luar Ramadan.
Berikut keutamaan puasa Arafah yang perlu diketahui:
- Menghapus dosa dua tahun — Rasulullah SAW bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
"Puasa Hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya." (HR Muslim no. 1162). Dosa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar memerlukan taubat yang sungguh-sungguh. - Termasuk puasa sunnah paling utama — Ulama dari keempat mazhab besar menganggap puasa Arafah sebagai sunnah muakkadah bagi yang tidak berhaji, dan pahala yang dijanjikan Nabi SAW menjadikannya puasa sunnah paling bermakna dalam kalender Islam di luar Ramadan.
- Hari pembebasan dari api neraka — Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka selain pada Hari Arafah (HR Muslim). Keutamaan ini berlaku bagi semua umat Islam, bukan hanya jamaah haji.
- Hari disempurnakannya agama Islam — Pada Hari Arafah, Allah SWT menurunkan firman-Nya tentang penyempurnaan agama Islam dalam QS Al-Maidah ayat 3. Peristiwa ini terjadi saat Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah wada di Padang Arafah.
- Waktu terbaik untuk berdoa — Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ
"Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah." (HR Tirmidzi). Ibn al-Qayyim, dikutip dari Human Appeal, menulis bahwa doa pada Hari Arafah lebih diterima dibandingkan hari lainnya, termasuk Lailatul Qadr. - Termasuk sepuluh hari terbaik — Hari Arafah merupakan puncak dari sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang disebut Rasulullah SAW sebagai hari-hari di mana amal saleh paling dicintai Allah SWT (HR Bukhari no. 969).
Baca juga: Niat Puasa Dzulhijjah Tarwiyah dan Arafah Lengkap Arab Latin
6. Amalan yang Dianjurkan bagi Jamaah Haji pada Hari Arafah
Karena puasa Arafah untuk yang sedang haji tidak dianjurkan, jamaah haji tetap memiliki banyak amalan lain yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan keberkahan Hari Arafah. Wukuf di Arafah merupakan ritual terpenting dalam haji, tanpa melaksanakannya haji menjadi tidak lengkap. Nabi SAW menegaskan, "Haji adalah Arafah."
Berikut amalan-amalan yang sangat dianjurkan bagi jamaah haji pada Hari Arafah:
- Memperbanyak doa dan munajat — Waktu antara Dzuhur hingga Maghrib merupakan momen paling mustajab untuk berdoa sepanjang tahun. Jamaah dianjurkan memanjatkan doa untuk diri sendiri, keluarga, dan seluruh umat Islam.
- Membaca dzikir tauhid — Rasulullah SAW menganjurkan membaca:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (HR Tirmidzi no. 3585) - Memperbanyak istighfar — Hari Arafah dikenal sebagai hari pengampunan terbesar. Memohon ampun kepada Allah dengan sungguh-sungguh menjadi amalan paling utama bagi setiap jamaah saat berdiam diri di Padang Arafah.
- Membaca takbir — Takbir tasyrik dimulai sejak Subuh Hari Arafah bagi yang tidak berhaji, dan setelah shalat Dzuhur bagi jamaah haji. Bacaan takbir:
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
- Membaca Al-Quran — Membaca dan mentadaburi Al-Quran pada hari yang penuh berkah ini menambah kekhusyukan ibadah dan meningkatkan pahala berlipat ganda.
- Mendengarkan khutbah Arafah — Pada hari ini terdapat khutbah yang disampaikan dari Masjid al-Nimra di Gunung Arafat. Jamaah haji dianjurkan mendengarkan khutbah ini jika memungkinkan.
- Menjaga kondisi fisik — Mengonsumsi makanan bergizi dan menjaga hidrasi tubuh sangat penting agar jamaah mampu beribadah dengan maksimal sepanjang hari.
Berdasarkan Muslim Hands UK, Hari Arafah merupakan puncak dari sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan dianggap sebagai hari terbaik sepanjang tahun. Bagi jamaah haji, memanfaatkan hari ini dengan ibadah selain puasa justru lebih sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW dan memberikan kesempatan terbaik untuk meraih ampunan Allah.
Baca juga: Amalan Bulan Dzulhijjah Sesuai Sunnah dan Keutamaannya
7. FAQ
Apakah jamaah haji boleh berpuasa pada Hari Arafah?
Mayoritas ulama dari mazhab Maliki, Syafi'i, dan Hanbali berpendapat bahwa jamaah haji tidak dianjurkan berpuasa pada Hari Arafah. Nabi Muhammad SAW sendiri tidak berpuasa saat wukuf di Arafah pada Haji Wada, dan justru menerima susu yang dikirimkan oleh Maimunah lalu meminumnya di hadapan para jamaah. Hikmahnya adalah agar jamaah tetap kuat menjalankan rangkaian ibadah haji yang sangat melelahkan secara fisik.
Siapa yang dianjurkan berpuasa pada Hari Arafah?
Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi seluruh umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Keutamaannya luar biasa besar, yaitu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim. Puasa ini dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, tepat sehari sebelum Hari Raya Idul Adha.
Apakah puasa Arafah harus bersamaan dengan waktu wukuf di Arab Saudi?
Terdapat dua pendapat ulama mengenai hal ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa puasa Arafah harus mengikuti waktu wukuf jamaah haji di Arab Saudi. Pendapat kedua, yang lebih kuat menurut mayoritas ulama, menyatakan bahwa puasa Arafah mengikuti tanggal 9 Dzulhijjah di negara masing-masing berdasarkan rukyatul hilal setempat. Dengan demikian, umat Islam di Indonesia tetap melaksanakan puasa Arafah sesuai kalender Hijriah yang ditetapkan oleh pemerintah melalui penetapan awal bulan Dzulhijjah.
Daftar Referensi
- IslamQA. Fasting on the Day of Arafah. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://islamqa.info/en/answers/98334
- Islamic Relief UK. Fasting on the Day of Arafah. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://www.islamic-relief.org.uk/giving/islamic-giving/qurbani/dhul-hijjah/the-day-of-arafah/fasting/
- Wikipedia. Day of Arafah. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Day_of_Arafah
- Human Appeal. Day of Arafah 2026: Fasting, Dua, and What to Do on This Sacred Day. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://humanappealusa.org/news/2026/5/day-of-arafah-2026-fasting-dua-and-what-to-do-on-this-sacred-day
- Muslim Hands UK. The Day of Arafah: Your Questions Answered. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://muslimhands.org.uk/latest/2018/08/the-day-of-arafah-what-is-the-significance-and-how-do-we-make-the-most-of-it
(kpl/fed)
Advertisement
D Academy 8
-
Dangdut Academy Harsiwi Achmad Tegaskan Couple Muncul Alami di Dangdut Academy 8
-
Ulang Tahun Selebritis Ulang Tahun Soimah Dirayakan di Panggung Dangdut Academy 8