INTERNASIONAL

'DEATH DEFYING ACTS', Antara Harta dan Cinta

Kamis, 31 Juli 2008 23:59  | 

Guy Pearce







KapanLagi.com - Pemain: Guy Pearce, Catherine Zeta Jones, Timothy Spall, Saoirse Ronan

Walaupun sudah berlalu 13 tahun, namun Harry Houdini (Guy Pearce) masih belum bisa memaafkan dirinya karena tak berada di sisi ibunya saat beliau meninggal. Dalam kesuksesannya sebagai pesulap yang mahir meloloskan diri dari jebakan maut, Harry kemudian menawarkan uang sebanyak US$10 ribu bagi siapa saja yang mampu menghubungkan Harry dengan mendiang ibunya.

Saat berada di Inggris dalam serangkaian tour-nya, Harry kemudian bertemu dengan Mary McGarvie (Catherine Zeta Jones) dan putrinya Benji (Saoirse Ronan). Mary mengaku bahwa ia memiliki kemampuan supranatural untuk menghubungi arwah orang yang sudah meninggal.

Sebenarnya Mary dan putrinya ini hanyalah 2 orang penipu yang ingin mendapatkan uang yang dijanjikan Harry Houdini. Dengan segala daya dan upaya, Mary berusaha menarik perhatian Harry Houdini agar bisa menjalankan tipu muslihatnya. Sayangnya usaha ini dihalang-halangi oleh manajer Harry, Sugarman (Timothy Spall) yang selalu melindungi Harry. Sugarman bahkan menawarkan sejumlah uang agar Mary menjauh dari kehidupan Harry.

Mary akhirnya berhasil menembus penghalang ini dan meraih kepercayaan Harry. Namun seiring kedekatan mereka, Mary dan Harry Houdini akhirnya malah terlibat hubungan asmara.

Film ini sebenarnya hanyalah fiksi yang mengambil tokoh nyata Harry Houdini. Dari sisi tema, film yang disutradarai oleh Gillian Armstrong ini sepertinya berusaha mengulang kesuksesan film THE PRESTIGE dan THE ILLUSIONIST yang juga mengisahkan tentang para pesulap terkenal.

Dilihat dari sisi cerita, ide dasar film ini mungkin bisa dibilang basi. Beberapa film seperti ENTRAPMENT, yang kebetulan juga dibintangi Catherine Zeta Jones, juga mengusung plot yang kurang lebih sama. Bahkan bisa dibilang jalan cerita film ini agak sedikit lemah. Puncak cerita sudah dapat diduga dari awal-awal cerita.

Namun kesan yang sama tidak terjadi pada penggarapan visual. Keputusan untuk mengambil gambar di Edinburgh dan London agaknya cukup tepat. Suasana magis yang timbul karena kabut yang hampir selalu meliputi negeri ini seolah sejalan dengan ide cerita film ini. Tentu saja efek magical ini makin kuat dengan digunakannya efek visual.

Sementara untuk penjiwaan, Guy Pearce cukup mampu menampilkan karakter misterius sang escapologist, Harry Houdini. Kesan dingin yang tampil dari wajah Guy membuat tokoh ini seolah tak memiliki emosi. Namun ini belum seberapa bila dibanding dengan Catherine Zeta Jones yang tampil memukau sebagai seorang penipu licik yang akhirnya malah jatuh cinta pada korbannya. Sayangnya, adegan romantis antara Guy dan Catherine terasa sedikit hambar. (kpl/roc)