Amalan Hari Tarwiyah yang Dianjurkan Lengkap dengan Keutamaan dan Niat Puasanya

Amalan Hari Tarwiyah yang Dianjurkan Lengkap dengan Keutamaan dan Niat Puasanya
amalan hari tarwiyah (h)

Kapanlagi.com - Hari Tarwiyah jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah, salah satu dari sepuluh hari yang diberkahi dalam kalender Islam. Bagi umat Muslim di seluruh dunia, amalan hari Tarwiyah menjadi kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT menjelang Hari Arafah dan Idul Adha.

Mereka yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji tetap bisa meraih banyak pahala melalui berbagai amal kebaikan, karena Nabi SAW menyebut 10 hari pertama Dzulhijjah sebagai hari-hari terbaik. Berbagai amalan hari Tarwiyah seperti puasa sunnah, dzikir, membaca Al-Quran, dan bersedekah menjadi amalan yang sangat dianjurkan pada hari istimewa ini.

Hari Tarwiyah merupakan waktu bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri secara mental dan spiritual menjelang Hari Arafah, sekaligus menjadi hari introspeksi untuk memfokuskan hubungan dengan Allah dan memohon ampunan. Dilansir dari IslamOnline, hari ini ditandai dengan persiapan menuju Mina, penentuan jenis haji, dan bermalam di sana sebelum menuju Arafah.

1. Pengertian Hari Tarwiyah dan Asal Usul Penamaannya

Yawm al-Tarwiyah (يوم التروية) yang berarti "Hari Melepas Dahaga," dirayakan pada tanggal 8 Dzulhijjah dan namanya berasal dari kebiasaan lama di mana jamaah haji meminum air di Makkah lalu membawanya ke Mina yang kekurangan air. Secara etimologis, istilah Tarwiyah berasal dari akar kata Arab "rawa" yang berarti melepaskan dahaga, di mana para jamaah haji zaman dahulu mempersiapkan diri dan unta mereka dengan memastikan ketersediaan air sebelum berangkat menuju Arafah.

(c)Ilustrasi AI

Selain makna terkait air, terdapat penjelasan lain yang menarik tentang penamaan hari ini. Nama Tarwiyah juga dikaitkan dengan perenungan mendalam, mengingatkan pada kebimbangan Nabi Ibrahim AS ketika menerima perintah ilahi untuk mengorbankan putranya. Mengacu pada IslamQA.info, keistimewaan sepuluh hari Dzulhijjah didasarkan pada banyak hal, salah satunya Allah SWT bersumpah demi hari-hari tersebut dalam Al-Quran dengan firman-Nya "Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh" (QS. Al-Fajr: 1-2), dan Ibnu Abbas, Ibnu Zubayr, Mujahid serta ulama lainnya menyatakan bahwa ini merujuk pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Imam Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa hari ini dinamai Tarwiyah karena dua alasan: pertama, jamaah haji dalam keadaan ihram menuju Mina untuk bermalam sebagai persiapan menuju Arafah keesokan harinya, di mana mereka menyiapkan persediaan air yang dikenal sebagai Yatarowwaun; dan kedua, karena pada malam hari ini Nabi Ibrahim AS untuk pertama kalinya bermimpi menyembelih putranya melalui wahyu Allah SWT, lalu keesokan harinya beliau bertanya-tanya apakah mimpi itu berasal dari Allah atau setan. Sebagaimana dikutip dari Boston Islamic Seminary, istilah Tarwiyah memiliki makna ganda yang layak direnungkan dan diterapkan dalam kehidupan, termasuk makna Rewaya (pengajaran), di mana para imam dan ulama mengajarkan tata cara haji kepada jamaah pada hari ini.

Baca juga: Keistimewaan bulan Dzulhijjah beserta amalan terbaik yang dianjurkan

2. Keutamaan Amalan Hari Tarwiyah dalam Islam

(c)Ilustrasi AI

Hari Tarwiyah memiliki kedudukan mulia karena termasuk dalam rangkaian sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang penuh berkah. Berdasarkan Islamic Relief Worldwide, sepuluh hari pertama Dzulhijjah sering disebut sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun dan kesempatan kedua setelah Ramadan, bahkan bagi mereka yang tidak menunaikan ibadah haji. Berikut keutamaan amalan hari Tarwiyah yang perlu diketahui setiap Muslim:

  1. Penghapusan dosa setahun. Terdapat hadis yang menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari ini. Rasulullah SAW bersabda, "Puasa hari Tarwiyah dapat menghapus dosa setahun. Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun" (HR Abus Syekh Al-Ishfahani dan Ibnu an-Najar). Meskipun sebagian ulama menilai hadis ini dhaif, para ulama membolehkan beramal dengan hadis dhaif dalam perkara fadhail a'mal selama tidak menyangkut masalah akidah atau hukum.
  2. Amal saleh paling dicintai Allah. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada hari-hari di mana amal salih lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini (yakni sepuluh hari Dzulhijjah)." Para sahabat bertanya apakah jihad sekalipun, dan beliau menjawab bahwa bahkan jihad pun tidak lebih utama kecuali bagi seseorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali (HR Bukhari).
  3. Pahala dilipatgandakan. Pahala setiap amal kebaikan yang dikerjakan pada sepuluh hari ini dilipatgandakan, sehingga siapa pun yang tidak mampu pergi haji hendaknya memanfaatkan waktu ini untuk menyelesaikan lebih banyak amal saleh dari biasanya.
  4. Berkumpulnya seluruh ibadah utama. Ibn Hajar al-Asqalani, dikutip dari Islamic Relief Australia, menyatakan, "Alasan paling jelas mengapa sepuluh hari Dzulhijjah memiliki keunggulan adalah berkumpulnya ibadah-ibadah utama di dalamnya — shalat, puasa, sedekah, dan haji."
  5. Pembebasan dari api neraka. Nabi SAW bersabda, "Tidak ada hari di mana Allah membebaskan lebih banyak hamba-Nya dari api neraka selain hari Arafah" (HR Muslim). Amalan hari Tarwiyah menjadi persiapan spiritual menjelang hari agung tersebut.
  6. Persiapan menuju Hari Arafah. Sebelum Arafah, terdapat tahapan krusial berupa kesiapan spiritual di hari Tarwiyah, di mana para sahabat Nabi SAW meriwayatkan bahwa Rasulullah melaksanakan mandi besar, mengenakan ihram, dan mulai mengucapkan talbiyah pada hari ini sebagai persiapan fisik sekaligus penyucian spiritual.

Baca juga: Keutamaan puasa Tarwiyah dan Arafah sebagai amalan penghapus dosa

3. Amalan Hari Tarwiyah yang Dianjurkan bagi Umat Islam

(c)Ilustrasi AI

Meskipun tidak sedang menunaikan ibadah haji, setiap Muslim tetap bisa meraih pahala besar pada hari Tarwiyah melalui berbagai amalan sunnah. Secara fisik memang tidak bisa berjalan menuju Mina seperti jamaah haji, tetapi secara spiritual setiap Muslim dapat bergabung dengan mereka melalui ibadah. Merujuk Yaqeen Institute, pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah disunahkan memperbanyak tahlil, takbir, dan tahmid, karena selalu dalam keadaan mengingat Allah membantu kita terhubung dengan-Nya sepanjang hari. Berikut amalan-amalan yang dianjurkan:

  1. Berpuasa sunnah Tarwiyah. Melaksanakan ibadah sukarela selama sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat dicintai Allah, dan Rasulullah SAW menyebutkan bahwa amal saleh pada hari-hari ini membawa pahala yang luar biasa, di mana puasa Tarwiyah dikaitkan dengan pengampunan dosa setahun sebelumnya. Puasa ini merupakan persiapan spiritual menjelang puasa Arafah keesokan harinya.
  2. Memperbanyak dzikir dan takbir. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah dan di mana amal kebaikan lebih dicintai-Nya daripada sepuluh hari ini, maka perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid" (Musnad Ahmad). Amalan dzikir di sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini merupakan ibadah paling khas pada periode tersebut.
  3. Membaca Al-Quran. Tilawah Al-Quran termasuk amalan yang dianjurkan sepanjang hari Tarwiyah dan seluruh awal Dzulhijjah. Waktu ini hendaknya digunakan untuk mengingat Allah, membaca Al-Quran, membaca talbiyah dan takbir dengan banyak, serta mengungkapkan rasa syukur atas nikmat-Nya yang tak terhitung.
  4. Melaksanakan shalat sunnah. Shalat Dhuha, Tahajud, dan shalat sunnah rawatib sangat dianjurkan untuk memperkaya amalan di hari Tarwiyah dan Arafah, termasuk shalat nafilah dan membaca shalawat kepada Nabi SAW.
  5. Bersedekah. Selain kurban wajib, meningkatkan sedekah umum selama sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat dianjurkan, karena amal kebaikan lebih dicintai Allah pada waktu ini sehingga memberi sedikit saja setiap hari dapat membawa pahala berat di timbangan.
  6. Berdoa dan beristighfar. Hari-hari ini hendaknya digunakan untuk refleksi, memohon ampunan, dan menyelaraskan kembali tujuan hidup, karena bukan sekadar tentang amal fisik melainkan tentang kembali kepada Allah dengan ketulusan.
  7. Menahan diri dari memotong kuku dan rambut. Bagi yang berencana berkurban, tradisi yang ditetapkan dalam Sahih Muslim (hadis 1977) menyebutkan untuk menghentikan kebiasaan memotong rambut dan kuku sejak 1 Dzulhijjah hingga kurban selesai dilaksanakan.

Baca juga: Amalan bulan Dzulhijjah sesuai sunnah dan keutamaan 10 hari pertama

4. Niat dan Tata Cara Puasa Tarwiyah

Salah satu amalan hari Tarwiyah yang paling utama adalah menjalankan puasa sunnah. Tata cara puasa Tarwiyah pada dasarnya sama dengan puasa sunnah lainnya, di mana niat dapat dibuat dari malam hari hingga sebelum waktu zawal (Dhuhr), asalkan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berikut panduan niat puasa Tarwiyah yang perlu dipahami.

Niat Puasa Tarwiyah:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillâhi ta'âlâ.

Artinya: "Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta'ala."

Niat Puasa Arafah (9 Dzulhijjah):

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma 'arafata sunnatan lillâhi ta'âlâ.

Artinya: "Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta'ala."

Langkah-langkah pelaksanaan puasa Tarwiyah secara ringkas meliputi:

  1. Membaca niat pada malam hari atau pagi sebelum terbit fajar. Untuk puasa sunnah, niat masih boleh dibuat pada pagi hari atau sebelum tengah hari, selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.
  2. Sahur untuk menjaga kekuatan tubuh selama berpuasa. Sahur adalah sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW karena mengandung keberkahan, dan selain membantu menjaga energi fisik, waktu sahur juga menjadi momen bermakna untuk berdoa dan beristighfar.
  3. Menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
  4. Menjaga lisan dan perilaku. Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, melainkan juga latihan mengendalikan ucapan, emosi, dan perilaku dari tindakan yang dapat mengurangi pahala ibadah.
  5. Menyegerakan berbuka saat waktu Maghrib tiba dengan membaca doa berbuka puasa.

Baca juga: Gabung puasa qadha Ramadhan dengan puasa Dzulhijjah, bolehkah?

5. Amalan Hari Tarwiyah bagi yang Tidak Berhaji

(c)Ilustrasi AI

Meskipun tidak semua umat Islam menunaikan haji, hari Tarwiyah menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk memurnikan niat, melepaskan dahaga spiritual, dan mempersiapkan diri untuk mendekat kepada Allah — sebuah hari untuk melepaskan segala kekhawatiran duniawi dan merenungkan kembali tujuan keberadaan kita. Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, dikutip dari Human Appeal, menyatakan bahwa sepuluh hari Dzulhijjah — dengan memadukan keutamaan siang dan malamnya — bahkan melampaui sepuluh malam terakhir Ramadan dalam hal pahala amal di siang hari.

Bagi yang tidak sedang berhaji, terdapat amalan istimewa yang bisa dilakukan untuk menghidupkan hari Tarwiyah. Makna Altarawwy (persiapan spiritual) pada hari Tarwiyah dapat dipraktikkan dengan menyisihkan waktu untuk refleksi diri, memohon ampunan, dan memanjatkan doa yang tulus — sekaligus menjadi kesempatan untuk introspeksi, menilai kondisi spiritual, serta memperbarui niat dan ketaatan. Momen ini tepat untuk mempersiapkan daftar doa khusus menjelang Hari Arafah.

Hari ini sepenuhnya tentang kesiapan spiritual dan mental, bukan soal perpindahan fisik; bagi jamaah haji ini adalah persiapan menuju ibadah suci, sementara bagi mereka yang tidak berhaji ini merupakan kesempatan istimewa untuk meraih pahala berlipat dengan niat yang murni. Sheikh Ahmad Kutty, cendekiawan Muslim senior di Islamic Institute of Toronto, dikutip dari About Islam, menyatakan, "Sepuluh hari dan malam pertama Dzulhijjah dianggap sebagai beberapa hari paling diberkahi dalam Islam."

Imam An-Nawawi, dikutip dari SunnahOnline, menegaskan, "Berpuasa di sepuluh hari ini sangat dianjurkan." Selain berpuasa, beliau juga menekankan pentingnya memperbanyak dzikir dan takbir pada hari-hari Dzulhijjah. Berikut lafal takbir yang dianjurkan untuk diamalkan pada hari Tarwiyah dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah, wallahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd.

Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah."

Baca juga: Ibadah di bulan Dzulhijjah yang dianjurkan beserta panduan lengkapnya

6. Hikmah Spiritual Hari Tarwiyah dan Persiapan Menuju Arafah

Di jantung bulan Dzulhijjah, ketika hari-hari suci mencapai puncaknya, Yawm at-Tarwiyah hadir dengan tenang — sering tersamarkan oleh kebesaran Arafah dan perayaan Idul Adha, namun hari ini memiliki makna spiritual yang mendalam, bukan sekadar tentang kesiapan logistik haji melainkan tentang sesuatu yang lebih intim: mempersiapkan hati untuk bertemu Allah.

Hari Tarwiyah juga menghubungkan kita dengan warisan kuat Nabi Ibrahim AS, di mana para ulama menyebutkan bahwa pada hari inilah beliau mulai merenungkan mimpi yang memerintahkannya mengorbankan putranya; beliau menghabiskan hari itu untuk merenung dan mempertimbangkan apakah perintah itu benar-benar dari Allah — oleh sebab itu hari ini disebut Tarwiyah yang bermakna perenungan; dan keesokan harinya (Arafah) tekadnya telah bulat. Kisah ini mengajarkan bahwa bahkan para Nabi pun membutuhkan waktu untuk mempersiapkan hati sebelum bertindak.

Sebagaimana dilaporkan HajjUmrahPlanner.com, jamaah haji menghabiskan malam 8 Dzulhijjah di Mina, dan hikmah di balik bermalam di sana adalah mempersiapkan diri untuk wukuf di Arafah serta mencari ridha dan rahmat Allah — oleh karena itu disunnahkan membaca Al-Quran, mengucapkan talbiyah, dan memanjatkan doa yang tulus pada hari ini sebagai persiapan menuju esok.

Allah menciptakan waktu dan menjadikan sebagian waktu lebih utama dari yang lain, menjadikan sebagian bulan, hari, dan malam lebih utama, ketika pahala dilipatgandakan berkali-kali sebagai rahmat bagi hamba-Nya — hal ini mendorong mereka untuk lebih banyak beramal saleh dan menjadikan mereka lebih bersemangat beribadah. Musim ibadah istimewa ini membawa banyak manfaat, termasuk kesempatan memperbaiki kekurangan dan mengejar amal yang mungkin terlewat.

Baca juga: Bacaan dzikir 10 hari pertama Dzulhijjah lengkap Arab Latin dan artinya

7. FAQ Seputar Amalan Hari Tarwiyah

(c)Ilustrasi AI

Apa itu hari Tarwiyah dan kapan dilaksanakan?

Hari Tarwiyah adalah hari kedelapan Dzulhijjah, di mana jamaah haji menuju Mina, sementara mereka yang melaksanakan haji Tamattu' mulai memasuki ihram untuk haji. Bagi yang tidak sedang berhaji, hari ini diisi dengan berbagai amalan sunnah termasuk puasa, dzikir, dan bersedekah. Tahun 2026, hari Tarwiyah diperkirakan jatuh pada tanggal 25 atau 26 Mei berdasarkan penetapan pemerintah.

Apakah puasa Tarwiyah hukumnya wajib?

Puasa Tarwiyah hukumnya sunnah, bukan wajib. Tidak ada hadis sahih yang menyebutkan ibadah spesifik yang harus dikerjakan pada hari Tarwiyah, namun hari ini termasuk dalam hadis umum yang menjelaskan keutamaan amal saleh di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, dan puasa termasuk perbuatan taat yang tercakup dalam hadis umum tersebut. Menjalankannya mendatangkan pahala besar, sementara meninggalkannya tidak berdosa.

Bolehkah menggabungkan puasa qadha Ramadan dengan puasa Tarwiyah?

Strategi paling bijak adalah memprioritaskan puasa qadha terlebih dahulu pada hari ke-1 hingga ke-7 Dzulhijjah agar utang puasa berkurang sebelum memasuki hari-hari paling utama, dan jika seluruh utang puasa sudah lunas sebelum tanggal 8-9 Dzulhijjah, puasa Tarwiyah dan Arafah dapat dijalankan dengan niat sunnah secara khusus untuk memperoleh pahala maksimal. Untuk pembahasan lebih lengkap, simak panduan menggabungkan puasa qadha dan sunnah Dzulhijjah.

Daftar Referensi

  1. IslamOnline. The Day of Tarwiyah Significance and Rituals. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://islamonline.net/en/the-day-of-tarwiyah-significance-and-rituals/
  2. IslamQA.info. Virtues of the Ten Days of Dhul Hijjah. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://islamqa.info/en/answers/1699
  3. Islamic Relief Worldwide. Dhul Hijjah: The 10 Best Days. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://islamic-relief.org/qurbani/dhul-hijjah-the-10-best-days/
  4. HajjUmrahPlanner.com. Hajj Day 1: 8th of Dhul Hijjah (Mina). Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://hajjumrahplanner.com/day-1-8th-of-dhul-hijjah/
  5. Yaqeen Institute. A Sacred Invitation: What to Do in the First 10 Days of Dhul Hijjah. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://yaqeeninstitute.org/read/blog/a-sacred-invitation-what-to-do-in-the-first-10-days-of-dhul-hijjah

(kpl/fed)

Rekomendasi

Trending